PEDULI SUMATERA

Peristiwa siklon tropis yang melanda Sumatra tidak dapat dilepaskan dari hilangnya sekitar 1,4 juta hektare hutan tropis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 15 Desember menyebutkan bahwa kawasan hutan tersebut telah dialihfungsikan menjadi wilayah pertambangan dan perkebunan sawit. Perubahan tutupan lahan ini menyebabkan rusaknya fungsi hidrologis hutan, sehingga kemampuan tanah untuk menyerap air menurun secara drastis. Air hujan yang seharusnya tertahan dan meresap perlahan, kini langsung mengalir ke permukaan dan memicu bencana. Dampak yang dirasakan warga begitu besar dan menyayat nurani. Hingga 18 Desember 2025, tercatat 1.059 jiwa meninggal dunia dan 192 orang masih dinyatakan hilang. Sebanyak 3,3 juta jiwa terdampak, kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, bahkan pola hidup sehari-hari. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp68,8 triliun, dengan 147.236 rumah rusak, 145 akses jembatan hancur, serta 967 fasilitas pendidikan turut terdampak. Angka-angka ini bukan sekadar data, melainkan potret duka ribuan keluarga yang hari-harinya terenggut oleh bencana. Berbagai dokumentasi yang beredar di media sosial memperlihatkan gelondongan kayu yang tersusun terlalu rapi untuk disebut sebagai akibat alam semata. Beberapa di antaranya bahkan memuat nama perusahaan beserta pihak yang memberi izin atas aktivitas penebangan tersebut. Allah Swt. telah mengingatkan dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41, yang artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Melalui hal itu Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.” Kondisi ini seolah menjadi jawaban atas masifnya ekspansi perkebunan sawit yang kini mencapai 2,45 juta hektare. Di sisi lain, BMKG menyatakan telah secara rutin menyampaikan peringatan terkait potensi siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia. Tak heran jika sebagian masyarakat memandang adanya kesan abai dari para pemangku kebijakan. Kesiapsiagaan bencana memang penting, namun jauh lebih mendasar adalah ketegasan kebijakan yang hadir, melindungi, dan membersamai masyarakat. Secara alami, akar pohon hutan mampu menyerap hingga 55 persen air hujan, sehingga air tidak langsung mengalir ke permukaan. Dengan mekanisme ini, hutan menahan, menyerap, dan melepaskan air secara perlahan tanpa merusak ekosistem. Kondisi ini sangat berbeda dengan perkebunan sawit. Kajian M. Raynaldo Sandita Powa dalam jurnal Teknologi Perkebunan dan Pengelolaan Sumberdaya Lahan pada 2 Desember mencatat bahwa kandungan bahan organik tanah di perkebunan sawit hanya sekitar 2,18 persen, sementara hutan mencapai 4,09 persen. Rendahnya bahan organik ini membuat struktur tanah menjadi rapuh, agregatnya tidak stabil, dan kemampuan tanah menyimpan air pun berkurang. Secara ilmiah, pembentukan badai tropis dipengaruhi oleh efek Coriolis, yakni gerak semu akibat rotasi bumi yang membelokkan angin hingga membentuk pusaran badai. Di wilayah khatulistiwa, efek ini relatif lemah sehingga badai seharusnya sulit terbentuk. Namun, peristiwa di Sumatra menunjukkan bahwa bencana tetap dapat terjadi akibat curah hujan ekstrem yang turun di wilayah bertopografi curam, seperti Pegunungan Bukit Barisan. Ketika tanah telah jenuh air, aliran permukaan meningkat dengan cepat dan memperbesar risiko banjir bandang serta longsor, bahkan tanpa terbentuknya badai tropis secara sempurna. BMKG menegaskan bahwa ketidaksungguhan dalam menjaga ekosistem, khususnya hutan yang berperan besar dalam mencegah bencana hidrometeorologi, hanya akan memperpanjang siklus bencana itu sendiri. Saat potensi bencana muncul, masyarakat kerap kebingungan akibat minimnya informasi yang jelas dan terarah. Informasi dan bantuan sering kali baru hadir ketika bencana telah terjadi. Pemerintah diharapkan mampu menjalankan perannya sebagaimana mestinya, yakni mengelola potensi alam Indonesia secara bijak dan bertanggung jawab. Hingga kini, warga korban banjir di Sumatra masih harus menempuh puluhan kilometer hanya untuk mendapatkan bahan makanan. Malam hari dilalui dalam dingin dan gelap karena ketiadaan listrik. Akses internet terputus, jalan terputus, dan harapan untuk kembali membangun mata pencaharian seolah hanyut bersama banjir. Satu pekan berlalu, dua pekan terlewati, namun rasa aman dan kenyamanan belum juga mereka rasakan. Sumatra adalah Indonesia. Mereka tidak meminta lebih. Dapat makan, minum, dan hidup layak sebagai manusia saja sudah cukup. Keteguhan mereka menghadapi keadaan menunjukkan bahwa mereka tidak menyerah. Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk menolong saudara-saudara kita? LAZ Zakatel menghimpun dan menyalurkan donasi bantuan untuk saudara-saudara korban banjir di Sumatra. Mari titipkan infaq terbaik Sahabat. Tambahkan angka 5 di akhir nominal donasi sebagai kode bantuan bencana Sumatra, contoh Rp10.005. Donasi dapat disalurkan melalui rekening berikut:Mandiri: 131.00.1022992.2BNI: 2.229.222.920BSI: 77.333.333.77a.n Zakatel Citra Caraka Jangan lupa melakukan konfirmasi kepada official admin Zakatel di nomor 0812 2374 1539. Sahabat juga dapat berdonasi dengan sekali klik melalui https://zakatel.id/campaign/bantu-sumatera-pulih Melalui peristiwa ini, hendaknya menjadi pekerjaan rumah kita bersama agar tidak ada lagi korban akibat bencana serupa. Pembenahan menyeluruh perlu dilakukan, dan pihak pemberi izin kebijakan sudah sepatutnya menjadi yang pertama memulainya.