PEDULI SUMATERA

Peristiwa siklon tropis yang melanda Sumatra tidak dapat dilepaskan dari hilangnya sekitar 1,4 juta hektare hutan tropis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 15 Desember menyebutkan bahwa kawasan hutan tersebut telah dialihfungsikan menjadi wilayah pertambangan dan perkebunan sawit. Perubahan tutupan lahan ini menyebabkan rusaknya fungsi hidrologis hutan, sehingga kemampuan tanah untuk menyerap air menurun secara drastis. Air hujan yang seharusnya tertahan dan meresap perlahan, kini langsung mengalir ke permukaan dan memicu bencana. Dampak yang dirasakan warga begitu besar dan menyayat nurani. Hingga 18 Desember 2025, tercatat 1.059 jiwa meninggal dunia dan 192 orang masih dinyatakan hilang. Sebanyak 3,3 juta jiwa terdampak, kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, bahkan pola hidup sehari-hari. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp68,8 triliun, dengan 147.236 rumah rusak, 145 akses jembatan hancur, serta 967 fasilitas pendidikan turut terdampak. Angka-angka ini bukan sekadar data, melainkan potret duka ribuan keluarga yang hari-harinya terenggut oleh bencana. Berbagai dokumentasi yang beredar di media sosial memperlihatkan gelondongan kayu yang tersusun terlalu rapi untuk disebut sebagai akibat alam semata. Beberapa di antaranya bahkan memuat nama perusahaan beserta pihak yang memberi izin atas aktivitas penebangan tersebut. Allah Swt. telah mengingatkan dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41, yang artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Melalui hal itu Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.” Kondisi ini seolah menjadi jawaban atas masifnya ekspansi perkebunan sawit yang kini mencapai 2,45 juta hektare. Di sisi lain, BMKG menyatakan telah secara rutin menyampaikan peringatan terkait potensi siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia. Tak heran jika sebagian masyarakat memandang adanya kesan abai dari para pemangku kebijakan. Kesiapsiagaan bencana memang penting, namun jauh lebih mendasar adalah ketegasan kebijakan yang hadir, melindungi, dan membersamai masyarakat. Secara alami, akar pohon hutan mampu menyerap hingga 55 persen air hujan, sehingga air tidak langsung mengalir ke permukaan. Dengan mekanisme ini, hutan menahan, menyerap, dan melepaskan air secara perlahan tanpa merusak ekosistem. Kondisi ini sangat berbeda dengan perkebunan sawit. Kajian M. Raynaldo Sandita Powa dalam jurnal Teknologi Perkebunan dan Pengelolaan Sumberdaya Lahan pada 2 Desember mencatat bahwa kandungan bahan organik tanah di perkebunan sawit hanya sekitar 2,18 persen, sementara hutan mencapai 4,09 persen. Rendahnya bahan organik ini membuat struktur tanah menjadi rapuh, agregatnya tidak stabil, dan kemampuan tanah menyimpan air pun berkurang. Secara ilmiah, pembentukan badai tropis dipengaruhi oleh efek Coriolis, yakni gerak semu akibat rotasi bumi yang membelokkan angin hingga membentuk pusaran badai. Di wilayah khatulistiwa, efek ini relatif lemah sehingga badai seharusnya sulit terbentuk. Namun, peristiwa di Sumatra menunjukkan bahwa bencana tetap dapat terjadi akibat curah hujan ekstrem yang turun di wilayah bertopografi curam, seperti Pegunungan Bukit Barisan. Ketika tanah telah jenuh air, aliran permukaan meningkat dengan cepat dan memperbesar risiko banjir bandang serta longsor, bahkan tanpa terbentuknya badai tropis secara sempurna. BMKG menegaskan bahwa ketidaksungguhan dalam menjaga ekosistem, khususnya hutan yang berperan besar dalam mencegah bencana hidrometeorologi, hanya akan memperpanjang siklus bencana itu sendiri. Saat potensi bencana muncul, masyarakat kerap kebingungan akibat minimnya informasi yang jelas dan terarah. Informasi dan bantuan sering kali baru hadir ketika bencana telah terjadi. Pemerintah diharapkan mampu menjalankan perannya sebagaimana mestinya, yakni mengelola potensi alam Indonesia secara bijak dan bertanggung jawab. Hingga kini, warga korban banjir di Sumatra masih harus menempuh puluhan kilometer hanya untuk mendapatkan bahan makanan. Malam hari dilalui dalam dingin dan gelap karena ketiadaan listrik. Akses internet terputus, jalan terputus, dan harapan untuk kembali membangun mata pencaharian seolah hanyut bersama banjir. Satu pekan berlalu, dua pekan terlewati, namun rasa aman dan kenyamanan belum juga mereka rasakan. Sumatra adalah Indonesia. Mereka tidak meminta lebih. Dapat makan, minum, dan hidup layak sebagai manusia saja sudah cukup. Keteguhan mereka menghadapi keadaan menunjukkan bahwa mereka tidak menyerah. Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk menolong saudara-saudara kita? LAZ Zakatel menghimpun dan menyalurkan donasi bantuan untuk saudara-saudara korban banjir di Sumatra. Mari titipkan infaq terbaik Sahabat. Tambahkan angka 5 di akhir nominal donasi sebagai kode bantuan bencana Sumatra, contoh Rp10.005. Donasi dapat disalurkan melalui rekening berikut:Mandiri: 131.00.1022992.2BNI: 2.229.222.920BSI: 77.333.333.77a.n Zakatel Citra Caraka Jangan lupa melakukan konfirmasi kepada official admin Zakatel di nomor 0812 2374 1539. Sahabat juga dapat berdonasi dengan sekali klik melalui https://zakatel.id/campaign/bantu-sumatera-pulih Melalui peristiwa ini, hendaknya menjadi pekerjaan rumah kita bersama agar tidak ada lagi korban akibat bencana serupa. Pembenahan menyeluruh perlu dilakukan, dan pihak pemberi izin kebijakan sudah sepatutnya menjadi yang pertama memulainya.

Wahai Umat Manusia, Palestina Masih Dilanda Krisis

Sejak tahun 1948 dunia menyaksikan sebuah babak luka yang begitu dalam. Negara Palestina diusir, dipaksa untuk meninggalkan tanah airnya. Nyaris seluruh tempat remuk redam menyisakan Gaza, yang luasnya tak lebih besar dari sebagian kota di Indonesia. Perang jelas menghancurkan seluruh sisi kehidupan. Pada detik ini, sekolah yang dulu riuh oleh suara anak kecil kini tinggal puing. Rumah sakit porak-poranda. Rumah tinggal berubah menjadi debu. Jalan, kantor, dan ruang kehidupan lain sudah luruh membisu. Jeritan perempuan dan anak-anak yang tak berdaya terdengar dari kejauhan. Sungguh, mereka menghadapi dentuman yang datang tanpa henti.  Banyak orang bertanya mengapa Gaza tetap bertahan. Mengapa mereka masih melawan padahal kekuatan militer yang dihadapi begitu besar. Sejarah Palestina penuh dengan kisah panjang tentang dijajah, ditindas, dan upaya diredupkan. Dan sama seperti umat terdahulu yang menghadapi cobaan berat, keteguhan Gaza bersumber dari iman yang tak pernah benar-benar padam.  Gaza tidak tinggal diam. Mereka bukan menunggu senjata, bukan pula menunggu kekuatan besar turun dari langit. Mereka hanya mengerjakan apa yang mampu mereka kerjakan. Sama seperti umat lain yang menguatkan lewat doa, kesadaran, dan aksi kecil yang tetap berarti. Apalagi di zaman ini perjuangan tidak selalu berbentuk senjata. Menceritakan apa yang terjadi, membagikan kabar benar, dan tidak membiarkan propaganda berjalan begitu saja sudah menjadi bentuk perjuangan tersendiri.  Ketika berbicara tentang kesabaran dan keteguhan, sumbernya tetap satu yakni iman. Dan iman tumbuh dari kedekatan dengan Al Quran. Ada tiga cara menjaga hubungan ini. Pertama, mendengarkan lantunan Al Quran yang menguatkan hati. Kedua, membacanya secara rutin bukan hanya di bulan suci. Ketiga, menghafalnya meski perlahan apakah setengah baris atau hanya beberapa kata setiap hari. Bukan banyaknya hafalan yang menjadi ukuran tetapi konsistensi melawan rasa malas dan hawa nafsu.  Situasi konflik membuat banyak kabar bohong sengaja disebarkan untuk melemahkan kepedulian. Ada yang percaya Palestina telah merdeka hanya karena mendengar kabar ada jeda tembak atau gencatan senjata. Padahal keadaan di lapangan jauh dari selesai. Bantuan yang masuk masih terbatas. Sebagian bahkan rusak sebelum sampai ke tangan warga. Ada pula bantuan udara yang justru mencelakai karena jatuh sembarangan menimpa tenda warga. Gaza yang hanya berjarak puluhan kilometer dari Masjidil Aqsa pun tetap terisolasi. Akses menuju tempat suci itu tertutup sepenuhnya. Mereka yang tinggal dekat tidak mampu menempuh perjalanan yang sangat dekat itu karena penjagaan dan blokade. Ketika Aqsa diganggu maka Gaza merasa terpanggil untuk berdiri di garis depan. Ini bukan semata pilihan, tetapi panggilan dari keyakinan yang mereka pegang. Kendati demikian penderitaan tetap berjalan. Harga bahan makanan melambung sampai tak masuk akal. Satu kantong tepung bisa bernilai puluhan juta. Bawang, beras, dan kebutuhan sederhana lain menjadi barang mewah. Warga tak hanya menghadapi perang tetapi juga kelaparan yang terus menekan. Bahkan orang kaya pun tak mampu bertahan lama karena semua persediaan habis dalam hitungan bulan. 1. Zakatel menyalurkan bantuan untuk Palestina Hingga saat ini Indonesia terus mengirimkan dukungan. Pada 12 November 2025 LAZ Zakatel kembali menyalurkan amanah berupa bantuan senilai Rp 9.100.000 melalui Syekh Mahmud Al Gaul dari Lembaga Mussalah Annujum. Penyaluran ini turut didampingi oleh perwakilan LAZ Persis, Romi Mulya Hidayat, S.Pd. sehingga memastikan seluruh bantuan sampai dengan aman dan tepat. Perjuangan Palestina adalah cermin bahwa persatuan umat masih menjadi pekerjaan besar. Selama perpecahan tumbuh, selama sebagian menjauh dari agamanya, maka tidak mudah menghadapi kekuatan yang menindas. Perlu kita ingat bahwa setiap langkah kecil, setiap kepedulian, dan setiap bentuk dukungan adalah cahaya yang tetap menyala bagi saudara kita di sana.  Terima kasih sedalam-dalamnya LAZ Zakatel haturkan kepada Sahabat Dermawan yang senantiasa mempercayakan amanah kepada Zakatel. Atas izin Allah, melapangkan rezeki dan memberkahi setiap kebaikan yang Sahabat titipkan. Mari kita terus mendoakan Palestina agar segera merdeka seutuhnya, terbebas dari penindasan dan kembali menikmati kehidupan yang damai. Dan mari kita bersama menguatkan solidaritas melalui zakat, infak, dan sedekah bersama Zakatel.

Hasbullah Fudail Dorong Pengarusutamaan HAM dalam Produk Hukum Daerah

Bandung – Kepala Kantor Wilayah Kementerian HAM Jawa Barat, Hasbullah Fudail, menegaskan pentingnya pengarusutamaan hak asasi manusia (HAM) dalam setiap sektor kebijakan, khususnya produk hukum daerah. Hal ini ia sampaikan dalam sebuah forum diskusi di Hotel Ibis Trans, Bandung, Selasa (23/9/2025). Menurutnya, pengarusutamaan HAM bertujuan memastikan hak asasi dihormati, dipenuhi, dan dilindungi. Karena itu, ia mendorong kolaborasi erat antara lembaga legislatif, pemerintah daerah, hingga kementerian terkait. “Profesi sebagai anggota legislatif bukan hanya soal membuat aturan, tetapi panggilan untuk menghasilkan produk hukum yang tidak mengabaikan nilai-nilai HAM,” ujar Hasbullah. Ia menyoroti Jawa Barat sebagai salah satu provinsi dengan tingkat permasalahan produk hukum tertinggi di Indonesia. Data menunjukkan, Jawa Barat masuk tiga besar daerah dengan produk hukum paling bermasalah. “Karena itu, kolaborasi penting. Tidak bisa berjalan sendiri. Harmonisasi perlu dilakukan bersama, apalagi sebelumnya Kanwil HAM juga sudah terlibat aktif dalam berbagai pembahasan,” katanya. Lebih lanjut, Hasbullah mengungkapkan terdapat dua isu besar yang masih menjadi pekerjaan rumah di Jawa Barat, yakni intoleransi dan kebebasan beribadah. “Fakta menunjukkan Jawa Barat merupakan provinsi paling intoleran di Indonesia. Maka, dorongan moderasi beragama menjadi sangat relevan,” tegasnya. Hasbullah berharap ke depan setiap produk hukum daerah dapat sejalan dengan nilai-nilai HAM, sekaligus memperkuat perlindungan kebebasan masyarakat. “Mudah-mudahan, tidak ada lagi aturan yang bertentangan dengan prinsip HAM. Semua segera dilaksanakan agar keadilan dan kerukunan bisa terwujud,” pungkasnya.

Rajut Kenangan dan Jalin Persaudaraan dalam Reuni Alumni CDC Telkom

Suasana hangat penuh kebersamaan terasa di Hotel Mitra, Bandung (23/9/2025). Para Alumni CDC Telkom berkumpul dalam rangka “Merajut Kenangan, Menjalin Persaudaraan.” Ketua Pelaksana Aep Sunarya dalam sambutannya menyampaikan, “Hari ini kita bukan lagi sekadar rekan kerja, tapi rekan seperjuangan.” Sekretaris LAZ Zakatel tersebut memaparkan bahwa silaturahmi bukan hanya mempertemukan kembali sahabat lama, tetapi juga menghadirkan keberkahan berupa kerja sama atau peluang baru. تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ، ذَرْهَ “Beribadahlah pada Allah SWT dengan sempurna jangan syirik, dirikanlah sholat, tunaikan zakat, dan jalinlah silaturahmi dengan orang tua dan saudara.” (HR. Bukhari) Sebagai bagian dari keluarga besar Telkom Indonesia, para alumni CDC pun merefleksikan kembali kiprah perusahaan yang selama ini tidak hanya fokus pada layanan telekomunikasi, namun juga komitmen besar terhadap masyarakat melalui program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan. Semoga silaturahmi ini menguatkan ikatan persaudaraan dan menghadirkan lebih banyak manfaat bagi umat. Jangan lupa, jemput keberkahan dengan berzakat, infak, dan sedekah melalui LAZ Zakatel Citra Caraka.

Desa Bisa Berdaya dengan Gerakan MPZ dan UPZ

Jawa Barat dalam pembangunannya menjadikan kesejahteraan sebagai sorotan utama. Dalam seminar bertajuk “Tantangan Kesejahteraan Jawa Barat” di GSG Salman ITB, Kamis (21/8/2025). Dewan Pakar Salman ITB Budhiana Kartawijaya mengingatkan pentingnya memahami dua perspektif dalam perencanaan sosial: pendekatan etic dan pendekatan emic.  Pendekatan etic merujuk pada data statistik, misalnya angka kemiskinan dari Badan Pusat Statistik (BPS). Namun, angka saja tidak cukup. Kita perlu melihat emic—cara pandang masyarakat lokal yang hidup di dalamnya. Misalnya, siapa yang dianggap miskin, kebutuhan sebenarnya mereka apa, dan berkoordinasi dengan tokoh setempat yang concern dengan wilayah tersebut. Tanpa menyelami sudut pandang komunitas, zakat bisa tepat angka tetapi salah makna.  Urbanisasi pun menjadi fenomena penting menurut Budhiana. Bukan lagi sekadar perpindahan dari desa ke kota, melainkan desanya sendiri yang mewujudkan model kota dengan akses jalan, jaringan komunikasi, hingga pusat aktivitas baru. Sejak 2007 mayoritas penduduk dunia tinggal di kawasan urban. Maka memahami kesejahteraan butuh lensa yang lebih luas, tidak hanya rural vs urban.  Tak kalah penting, pendekatan gender harus diperhatikan. Melibatkan ibu-ibu dalam perencanaan, distribusi zakat, hingga edukasi pemberdayaan akan menghadirkan program yang lebih membumi. “Etic pakai BPS, emic pakai cerita dari warga lokal. Baca perspektif mereka sehari-hari. Tepat sasaran, tepat makna, dampaknya terukur dan akuntabel,” kata Budhiana.  Pada kesempatan yang sama dijelaskan bahwa zakat bukan hanya ibadah individu, tetapi juga instrumen pembangunan bangsa. Direktur Puskas BAZNAS RI Muhammad Hasbi Zaenal mengaitkan zakat dengan arah kebijakan nasional. Menurutnya, RPJPN 2025–2045 serta RPJMN lima tahunan menempatkan zakat sebagai salah satu indikator ekonomi syariah. Bahkan, Indeks Zakat Nasional kini diakui negara sebagai kontribusi nyata dalam pembangunan daerah.  Baznas, kata Muhammad, terbuka menerima informasi di dalam desa supaya terdata, mengingat baru 868 desa dari 5959 desa yang terpetakan. Data akan terus diperbaharui secara berkala dengan menjaga kerahasiaan dalam Kontak yang bisa dihubungi, https://bazn.as/PemetaanDesaZakat Herlin (0878-3533-5300). Sementara itu, Nana Sudiana menyoroti konteks Jawa Barat. “Sering kita sebut tanah subur, gemah ripah loh jinawi. Namun, masih banyak desa yang bergulat dengan kemiskinan dan keterbatasan akses,” ungkap Direktur Akademizi tersebut. Kesenjangan akses transportasi, minimnya sarana kesehatan, hingga kasus gizi buruk menunjukkan perlunya peran zakat yang lebih komprehensif.  Solusi yang ditawarkan antara lain membangun MPZ dan UPZ di desa-desa, agar masyarakat punya wadah untuk mengelola zakat, infak, dan sedekah secara berkesinambungan. Praktik sederhana seperti mengumpulkan satu-dua sendok beras di rumah untuk kemudian dimanfaatkan saat ada hajatan atau kebutuhan darurat bisa menjadi model awal partisipasi lokal.  Prinsip ini menjadi pengingat bahwa zakat bukan sekadar angka, melainkan rantai solidaritas Indonesia.  Jika desa kuat, masyarakat bermartabat, dan ekosistem zakat berjalan sehat, maka bangsa ini akan melangkah lebih maju dengan nilai syariat yang terjaga.

Tips Mendidik Anak Ala Rasulullah

Kita di Bulan Kemerdekaan ini diingatkan bahwa merdeka sejati bukan hanya terbebas dari penjajahan fisik, tetapi juga dari belenggu kebodohan, kesyirikan, dan kelalaian hati. Rasulullah ﷺ telah mengajarkan kepada para sahabat metode pendidikan yang bukan sekadar mengisi akal, tetapi juga membebaskan jiwa. Suatu hari, sahabat mulia Mu’adz bin Jabal r.a. berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku: Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya, dan apa hak hamba atas Allah?” Mu’adz menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau ﷺ pun bersabda: “Hak Allah atas para hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Adapun hak hamba atas Allah adalah Dia tidak akan mengazab orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Al-‘Allamah Al-Fauzan hafidzahullah — dalam kajian Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray bertema “2 Metode Pendidikan Rasulullah ﷺ” pada 5 April 2025 — menjelaskan bahwa dari hadis ini, setidaknya ada dua metode yang Rasulullah ﷺ gunakan ketika mendidik: Rasulullah ﷺ sering memulai dengan bertanya sebelum memberikan jawaban. Seperti kepada Mu’adz r.a., beliau tidak langsung menyampaikan materi, tetapi memancing perhatian dengan pertanyaan. Mungkin secara waktu, menjawab langsung terasa lebih singkat. Namun, pertanyaan yang diajukan terlebih dahulu membuat pendengar lebih fokus, tertarik, dan penasaran. Saat rasa ingin tahu muncul, ilmu yang disampaikan akan lebih mudah melekat di hati dan ingatan. Mungkin secara waktu, menjawab langsung terasa lebih singkat. Namun, pertanyaan yang diajukan terlebih dahulu membuat pendengar lebih fokus, tertarik, dan penasaran. Saat rasa ingin tahu muncul, ilmu yang disampaikan akan lebih mudah melekat di hati dan ingatan. Pembahasan agama adalah perkara besar. Maka, sudah selayaknya disampaikan kepada orang yang benar-benar memperhatikan. Jika Al-Qur’an dan hadis disampaikan sementara pendengar sibuk bermain gawai atau berbincang sendiri, ini dikhawatirkan menjadi sikap yang meremehkan kemuliaan firman Allah dan sabda Nabi Rasulullah ﷺ terkadang menyampaikan sebuah pokok pembahasan secara ringkas sebelum menjelaskan detailnya. Misalnya, beliau mengatakan: “Islam dibangun di atas lima.” Pernyataan ini global, lalu beliau merinci satu per satu lima Rukun Islam tersebut. Demikian pula dalam hadis Mu’adz r.a., beliau terlebih dahulu menyebutkan bahwa Allah memiliki hak dan hamba memiliki hak, baru kemudian beliau jelaskan masing-masing hak tersebut. Inilah dua metode mendidik ala Rasulullah ﷺ: membangkitkan rasa ingin tahu, lalu menguatkannya dengan penjelasan yang runtut. Dengan cara ini, ilmu yang dipelajari akan lebih mudah dipahami dan diingat sehingga seorang hamba akan meraih kemerdekaan hakiki — kemerdekaan untuk menjalani hidup dengan penuh makna. 📚 Rujukan: LAZ Zakatel melayani dan menyalurkan zakat, infak, dan sedekah, yang dapat diklik melalui:

Kilas Perjalanan Zakatel Citra Caraka Periode 2024-2023

Tiga belas tahun perjalanan bukan sekadar angka. Di dalamnya terajut idealisme, kerja sunyi, dan ikhtiar panjang untuk menyalurkan kebermanfaatan bagi sesama. Rapat Tahunan Yayasan Zakatel Citra Caraka pada Sabtu, 19 Juli 2025 menjadi ruang refleksi yang penting. Para pengurus dan pemangku kepentingan berkumpul untuk meninjau kembali arah lembaga. Tidak sekadar menyoal angka, tapi juga komitmen terhadap keadilan, kolaborasi, dan keberlanjutan. Terdapat beberapa hal pokok yang menjadi sorotan utama: Laporan Auditor Independen LAZ Zakatel kembali mendapatkan label wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion) dari auditor independen. Ini bukan hanya prestasi administratif, tapi bukti bahwa transparansi dan akuntabilitas terus dijaga. Dana yang dihimpun dari umat, harus kembali kepada umat, dengan penuh tanggung jawab dan kejelasan penggunaan. Capaian Penghimpunan Dana Meski dalam tiga tahun terakhir tren penghimpunan melandai, Zakatel tetap mencatatkan arus kas yang positif. Faktor-faktor seperti perubahan regulasi dan perilaku berzakat turut memengaruhi. Namun, ini juga menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi, memperluas jejaring, dan meningkatkan kepercayaan publik. Pendistribusian dan Pendayagunaan Penyaluran dana tak hanya berhenti pada santunan. Zakatel terus mengarahkan sebagian besar zakat mal — minimal 55% — untuk asnaf fakir dan miskin, dengan prioritas 30% untuk program ekonomi produktif. Harapannya, mustahik hari ini menjadi muzakki di masa depan. Piutang Qardhul Hasan Pada rapat ini telah disetujui adanya pengalihan piutang Qardhul Hasan yang tidak bisa ditagih sebagai bagian dari penyaluran zakat untuk gharimin. “Utang yang tidak terbayar tadi direklasifikasi menjadi gharimin. Habis itu kita hapus,” kata Ketua Dewan Pembina DR. H. Setyanto PS, MA. Keputusan ini dilandasi prinsip syariah dan semangat keberpihakan pada mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan dalam jeratan utang. Pengurus LAZ Zakatel Citra Caraka periode 2025-2030 ditetapkan sebagai berikut: Terdapat sebuah analogi “Jangan jadi air dengan minyak, tapi jadilah air dengan sirup.” Sehingga dalam menghadapi perbedaan visi maupun dinamika apabila terjadi bersama lembaga lain, diharapkan adalah kolaborasi dan sinergi yang saling memperkuat sebagaimana kebaikan yang senantiasa menyatu. InsyaaAllah, langkah ke depan tidak saja membawa Zakatel menjadi lembaga yang lebih baik, tapi juga membawa keberkahan bagi semua yang terlibat di dalamnya.

Mengenal Keutamaan Shalat Sunah Intidzar

Terdapat banyak keutamaan dibalik amal ibadah dan doa yang dipanjatkan pada hari Jumat, hari yang dimuliakan dalam Islam. Ketika telah berada di masjid pada hari Jumat, dan sedang menanti imam atau khatib naik ke mimbar untuk memulai khutbah, Sahabat dapat melaksanakan Shalat intidzar. Kata “intidzar” berarti menunggu, sehingga shalat ini sering disebut sebagai shalat sunnah saat menunggu khutbah Jumat dimulai. Hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan untuk dilaksanakan). Menukil almanhaj.or.id (18/7), Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitaabul Jumu’ah, bab Fadhlu Man Istama’a wa anshata fila Khutbbah (hadits no. 857). Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Barangsiapa mandi kemudian dia menghadiri shalat Jum’at, lalu mengerjakan shalat yang telah ditetapkan baginya, selanjutnya dia diam sehingga imam selesai dari khutbahnya dan kemudian dia mengerjakan shalat bersamanya, maka akan diberikan ampunan baginya atas dosa antara satu jum’at itu dengan jum’at yang lain dan ditambah tiga hari.” Shalat intidzar dimulai sejak masuk masjid di hari Jumat, berakhir ketika imam atau khatib naik ke mimbar atau adzan pertama dikumandangkan sebelum khutbah Jumat. Sebagaimana pelaksanaan shalat sunah lainnya, shalat intidzar dilakukan dua-dua rakaat (salam setiap dua rakaat). Cara melaksanakan shalat intidzar: Bismillah amal ibadah dan doa yang dipanjatkan Sahabat senantiasa diberkahi Allah Swt. Aamiin.

Apa Itu Zakat Perdagangan, Syarat, dan Cara Menghitungnya

Menjadi bagian dari rukun Islam yang ketiga, zakat tidak hanya diwajibkan atas harta seperti emas, perak, dan hasil pertanian saja tetapi juga atas harta yang diperoleh dari aktivitas perdagangan. Zakat perdagangan merupakan zakat yang wajib ditunaikan oleh seorang pelaku usaha atas harta kekayaannya dari jual beli barang dagangan. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 267: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِۗ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu..” Menukil Baznas Kota Yogyakarta (19/6), kewajiban menunaikan zakat perdagangan berdasarkan hadis di mana Rasulullah Saw. bersabda, “Tiada seorang pedagang pun yang memiliki dagangannya, kecuali ia wajib mengeluarkan zakat darinya setiap tahun sebesar dua setengah persen.” (HR. Al-Bukhari) Zakat ini menjadi salah satu bentuk zakat yang ditujukan untuk membersihkan dan memberkahi harta hasil usaha. Allah Swt. berfirman dalam Al-Quran surah At-taubah ayat 103: خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ Ambillah zakat dari harta mereka (guna) menyucikan dan membersihkan mereka, dan doakanlah mereka karena sesungguhnya doamu adalah ketenteraman bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Seorang pelaku usaha wajib menunaikan zakat perdagangan jika memenuhi syarat berikut: Harta yang dikeluarkan bisa berupa barang dagangan atau uang seharga barang tersebut. Untuk zakat perdagangan dihitung sebesar 2,5% dari nilai bersih harta dagangan. Cara perhitungannya, contoh: Sobat merupakan pengusaha hijab. Jumlah hijab yang dibuat = 250 pcsModal 1 pcs hijab = Rp13.000.Hijab yang terjual = 200 pcs Maka2,5% × 200 pcs = 5 pcs5 pcs × Rp13.000 = Rp65.000 Jadi, Sobat dapat menunaikan zakat perdagangan senilai Rp65.000 rupiah Ada pertanyaan? Diskusikan bersama kami via WhatsApp (Nazwa): 0812-2374-1539 LAZ Zakatel menerima dan menyalurkan amanah Ibu/Bapak, melalui rekening berikut: Donasi Zakat & Kemanusiaan:💳 Mandiri: 131.00.1022992.2💳 BNI: 2.229.222.920💳 BSI: 70.262.223.32a.n Zakatel Citra Caraka 📲 Konfirmasi ke admin (Nazwa): 0812 2374 1539

Mengenal Lebih Dini Gejala Penyakit Jantung Agar Lansia Sehat Bahagia

Seminar setengah hari yang diselenggarakan oleh Zakatel bersama Yayasan Kesehatan (Yakes) Telkom pada Rabu, 11 Juni 2025 lalu, berhasil mengumpulkan peserta terdiri dari anggota dan keluarga pensiunan yg ada di wilayah Pengurus Cabang P2TEL Baleendah yang antusias untuk memahami lebih dalam tentang penyakit jantung. Dokter ahli jantung, dr. I Gede Sumantra, Sp.JP(K), FIHA hadir sebagai narasumber untuk membahas sub tema “Kenali Nyeri Dada Akibat Penyakit Jantung”. Dalam presentasinya, I Gede Sumantra menjelaskan bahwa nyeri dada dapat menjadi gejala awal dari penyakit jantung. Namun, tidak semua nyeri dada disebabkan oleh penyakit jantung. Oleh karena itu, penting untuk mengenali jenis nyeri dada yang dapat menjadi tanda adanya penyakit jantung. I Gede Sumantra menjelaskan terdapat beberapa jenis penyakit jantung yang dapat menyebabkan nyeri dada, seperti: Dokter juga mengatakan nyeri dada bisa karena kondisi tertentu, baik faktor yang bisa dirubah maupun tidak bisa dirubah. Nyeri disebabkan merokok, hipertensi, aktivitas fisik, obesitas, dan penumpukan lemak di pembuluh darah merupakan penyebab nyeri yang dapat dirubah. Sedangkan umur, jenis kelamin, dan genetik merupakan penyebab nyeri yang tidak bisa dirubah. Terdapat pula faktor lain penyebab nyeri dada ini, yaitu Diabetes Mellitus, Stress, konsumsi alkohol, dan hormon. I Gede Sumantra kemudian menyebut nyeri dada dapat dicegah dengan pengaturan pola diet gaya hidup yang sehat, termasuk di antaranya: Setelah presentasi peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi dengan Dokter I Gede Sumantra. Dengan demikian, seminar ini berhasil memberikan pengetahuan dan kesadaran kepada peserta tentang pentingnya mengenali nyeri dada akibat penyakit jantung dan cara mencegahnya. Kunjungi Media Zakatel Citra Caraka Instagram : https://instagram.com/zakatelcc?igshid=ZDdkNTZiNTM= Youtube : https://youtube.com/@zakakelcitracaraka