Dewan Pengarah BNPB: Donasi Bukan Lagi Soal Sukarela, Tapi Urusan Mendesak

Lembaga Kemanusiaan di era sekarang wajib bergerak cepat menghadapi lonjakan frekuensi dan intensitas bencana alam akibat perubahan iklim global. Urusan kesiapsiagaan dan penyelamatan jiwa ini dikaji saat LAZ Zakatel menghadiri forum diskusi BAZNAS Fundraising Forum pada Rabu, 15 Juli 2026 di Bandung. Pertemuan besar yang dihadiri oleh perwakilan BAZNAS RI, DT Peduli, Rumah Zakat, BNPB, dan Kementerian Agama RI ini menghadirkan pemaparan dari Ibu Rahmawati Husein selaku Dewan Pengarah BNPB, Dewan Pakar MDMC, dan Ketua LLHPB PP Aisyiyah. Beliau menyampaikan materi bertajuk Membangun Kemitraan Strategis, Meningkatkan Solidaritas, dan Mengoptimalkan Dampak Kemanusiaan. Indonesia secara geologis berada di posisi berbahaya karena dikepung oleh tiga lempeng raksasa dunia, yaitu Lempeng Pasifik, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Eurasia. Lempengan-lempengan bumi ini saling menekan satu sama lain dan bergerak aktif sekitar empat hingga sepuluh sentimeter per tahun. Berdasarkan basis data geologi, negara kita memiliki lebih dari 400 sesar aktif atau retakan pada kerak bumi yang tersebar di wilayah Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Papua. Data segmen sesar ini melonjak drastis dari 295 segmen pada 2017 menjadi 402 segmen pada 2024. Sesar utama seperti Semangko di Sumatera, Palu-Koro di Sulawesi, serta Cimandiri dan Lembang di Jawa berpotensi besar memicu gempa bumi merusak. Selain ancaman lempeng dan sesar, kompleksitas kondisi demografis berupa kepadatan penduduk yang tinggi serta masalah ekonomi seperti kemiskinan ikut menambah tingginya kerentanan masyarakat terhadap peristiwa alam. Kondisi geografis ini menempatkan Indonesia pada ranking pertama dari 265 negara di dunia terhadap risiko tsunami, ranking pertama dari 162 negara untuk bencana tanah longsor, ranking ketiga dari 153 negara untuk risiko gempa bumi, serta ranking keenam dari 162 negara untuk risiko bencana banjir. Kondisi krisis kemanusiaan ini semakin berat karena di tingkat global juga terjadi akumulasi masalah, mulai dari konflik bersenjata dan perang, kemiskinan ekstrem, hingga krisis iklim yang memicu cuaca ekstrem tahunan seperti banjir, badai, kekeringan, dan suhu panas ekstrem. Menghadapi ancaman multidimensional yang mengancam nyawa jutaan jiwa tersebut, tidak ada satu lembaga pun yang memiliki sumber daya, kewenangan, dan kapasitas yang cukup untuk menangani seluruh siklus bencana secara mandiri. Siklus penanggulangan bencana harian harus dikelola secara utuh mulai dari fase pra-bencana yang meliputi tindakan pencegahan, mitigasi atau upaya mengurangi resiko, dan kesiapsiagaan. Fase berikutnya adalah fase saat bencana yang mencakup tindakan siaga darurat, tanggap darurat untuk menyelamatkan korban, dan transisi darurat. Terakhir adalah fase pasca-bencana yang meliputi tindakan pemulihan, rehabilitasi untuk memperbaiki fasilitas, dan rekonstruksi untuk membangun kembali bangunan yang hancur. Seluruh rangkaian ini dijalankan dalam satu kesatuan National Disaster Management System atau Sistem Penanggulangan Bencana Nasional melalui penguatan komponen legislasi terkait aturan hukum, kelembagaan, perencanaan program, penganggaran dan pendanaan, peningkatan kapasitas amil dan relawan, hingga pelaksanaan penerapan di lapangan. Kerja sama multipihak wajib diterapkan demi mengoptimalkan penanganan korban bencana di lapangan. Lembaga amil dan kemanusiaan harus bergerak dalam ekosistem Pentahelix PB yang kemudian berevolusi menjadi Multihelix, yaitu model kolaborasi yang menyatukan unsur akademisi atau perguruan tinggi, pihak swasta atau dunia usaha, pemerintah, kelompok masyarakat sipil atau NGO, media massa, hingga politisi legislatif dan lembaga internasional. Wadah kolaborasi ini bergerak di dalam platform Nasional Penaggulangan Bencana. Melalui kerja sama erat ini, kita dapat saling berbagi dana bantuan, berbagi tenaga ahli kebencanaan, berbagi logistik makanan dan obat-obatan, berbagi teknologi evakuasi, serta berbagi informasi lapangan yang akurat. Kolaborasi ini bertujuan untuk mengoptimalkan sumber daya dengan memanfaatkan keunggulan masing-masing pihak; mempercepat respons darurat dan pemulihan pascabencana serta mengurangi duplikasi program atau tumpang tindih bantuan agar respons penanganan menjadi lebih efektif, transparan, akuntabel, dan memenuhi standar kerja internasional. Bentuk kolaborasi penggalangan dana kemanusiaan secara internasional sendiri dapat dikemas melalui lima skema harian, yaitu co-fundraising atau penghimpunan dana bersama, matching fund berupa dana pendamping, emergency appeal atau serua darurat bencana, crowdfunding lewat platform patungan digital, serta charity event berupa acara penggalangan dana. Sumber pendanaan global ini dapat diakses melalui berbagai kanal seperti individual giving dari perorangan, corporate giving dari perusahaan, philanthropy foundation atau yayasan filantropi, multilateral agency dan bilateral agency berupa lembaga donor antar-pemerintah, faith-based organization atau organisasi berbasis keagamaan, digital fundraising, donasi diaspora atau warga negara di luar negeri, high net worth individual atau donatur kaya, hingga legacy giving berupa dana warisan. Hubungan ini dapat dibangun dengan aktif melibatkan diri dalam forum internasional, konferensi global, webinar, lokakarya, dan pameran kemanusiaan. Mitra global potensial yang dapat digandeng meliputi badan PBB seperti UNICEF, UNDP, WHO, IOM, WFP, UNHCR untuk pengungsi, dan UNOCHA untuk koordinasi kemanusiaan. Bisa juga bersama pemerintah asing seperti JICA Jepang, USAID Amerika, DFAT Australia, SIDA Swedia, dan NZAid Selandia Baru hingga NGO internasional terkemuka seperti Oxfam, Save the Chidren, Mercy Corps, World Vision, Islamic Relief Worldwide, Qatar Charity, Bayt Zakat Al Azhar, Mishr Al Kheir, serta lembaga yang masuk dalam jajaran Top 10 Muslim NGOs di Dunia. Agar dapat dilirik dan dipercaya oleh mitra internasional, organisasi kemanusiaan di Indonesia harus memenuhi standar kredibilitas tinggi dan memperkuat kapasitas internalnya. Karakteristik utama yang dinilai oleh donor meliputi penerapan tata kelola yang baik (good governance), legalitas hukum lembaga yang jelas, rekam jejak program yang terbukti sukses, kepemimpinan yang kuat, serta sistem keuangan yang akuntabel dan terdokumentasi rapi melalui audit keuangan independen. Lembaga juga wajib memiliki kebijakan anti-fraud (anti-kecurangan) dan anti-korupsi, manajemen risiko yang matang, mekanisme pengaduan publik, serta kebijakan perlindungan data pribadi. Standar internasional juga menuntut komitmen terhadap inklusi, nondiskriminasi, serta kebijakan safeguarding yang ketat. kebijakan safeguarding ini bermakna sebagai aturan perlindungan bagi kelompok rentan, yang meliputi kebijakan perlindungan anak serta kebijakan PSEAH atau pencegahan eksploitasi, pelecehan, dan kekerasan seksual di lingkungan kerja kemanusiaan. Penguatan internal ini harus diimbangi denganstrategi menentukan keunggulan organisasi, mulai dari penajaman bidang keahlian, kejelasana wilayah kerja, ketepatan kelompok sasaran, inovasi program, hingga pengalaman proyek harian. Standar reputasi ini wajib dibangun melalui publikasi laporan tahunan berkala, pengisian website profesional, media sosial yang aktif, penulisan impact stories atau kisah dampak nyata penerima manfaat, hingga raihan penghargaan atau sertifikasi resmi. Kepercayaan jangka panjang dari para mitra hanya bisa dirawat melalui pelaporan program yang tepat waktu, transparansi penggunaan dana, audit independen berkala, komunikasi rutin yang terbuka, serta kepatuhan mutlak terhadap perjanjian kerja sama yang telah disatukan bersama. Mengingat posisis Indonesia yang berada di atas kepungan lempeng aktif dan dikelilingi ratusan sesar
Menggalang Kepedulian Global Melalui Budaya Gotong Royong Indonesia

Gerakan kemanusiaan dan kedermawanan Islam di Indonesia memegang peran besar dalam merajut jalinan kepedulian antarsesama. Semangat kebersamaan ini dibahas saat LAZ Zakatel menghadiri forum diskusi BAZNAS Fundraising Forum pada Rabu, 15 Juli 2026 di Gedung Darul Hajj, Kompleks Daarut Tauhid, Bandung. Pertemuan besar yang dihadiri oleh perwakilan BAZNAS RI, DT Peduli, Rumah Zakat, BNPB, dan Kementrian Agama RI ini menghadirkan bahasan penting dari Bapak Irvan Nugraha selaku CEO Rumah Zakat. Beliau membagikan materi bertajuk Eksplorasi Portofolio: Praktik Baik Rumah Zakat dalam Gerakan Kemanusiaan Nasional & Global. Berdasarkan data makro dari Survei Nasional ZISWAF awal tahun 2026, potensi nilai ZISWAF dari masyarakat Muslim dewasa dalam setahun bisa mencapai sekitar Rp343 Triliun. Potensi besar ini lahir dari akumulasi Infak atau Sedekah sebesar Rp221,7 Triliun, Qurban Rp52,3 Triliun, Wakaf Rp33,6 Triliun, Zakat Maal Rp27,0 Triliun, serta Zakat Fitrah Rp8,4 Triliun. Tingkat partisipasi umat juga sangat tinggi, dimana dari 180,6 juta Muslim dewasa, sebanyak 98,5% berpartisipasi dalam zakat fitrah dan 74,8% aktif berinfak atau bersedekah. Namun, tantangan yang dijembatani di lapangan sangat besar karena tercatat 56,9% masyarakat masih menyalurkan ZISWAF secara langsung atau melalui jalur non-formal. Melihat tantangan tersebut, arah gerakan kelembagaan harus matang dengan menetapkan positioning yang kuat. Sebagai contoh, dalam 28 tahun perjalanannya sejak 1998, Rumah Zakat berevolusi dari Traditional Institution, berkembang menjadi Professional Institution pada 2006, lalu menjadi World Class Socio Religious NGO pada 2010. Arah gerak kemudian bertransformasi menjadi Entrepreneurial Institution pada 2016, World Digital Philanthropy Institution pada 2020, hingga memantapkan posisi sebagai Global Islamic Philanthropy Institution pada 2026. Lembaga kemanusiaan global wajib memiliki tiga misi, yaitu menjaga kepercayaan masyarakat lewat tata kelola profesional dan akuntabel, menyelenggarakan program berkelanjutan lewat kolaborasi miltipihak, serta mengoptimalkan sumber daya insani yang produktif, adaptif, dan inovatif. Langkah ini diselaraskan dengan agenda nasional dan global, meliputi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 untuk mendukung Visi Indonesia Emas 2045, kontribusi lintas tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs 2030, serta menjalankan amanat Pembukaan UUD 1945 dalam menjaga perdamaian dunia lewat aksi kemanusiaan global. Realisasi program pemberdayaan dilakukan berbasis wilayah binaan melalui pendekatan Desa Berdaya yang terintegrasi ke dalam program, contohnya bidang sosial melalui program bantuan Beras untuk Lansia dan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Jaringan harian ini didukung oleh keberadaan kantor perwakilan atau cabang, unit layanan zakat, ratusan desa berdaya, serta ribuan desa dan kelurahan binaan di berbagai daerah. Agar menghasilkan spektrum dampak yang luas, kerangka strategi program disusun melalui beberapa tahapan penting. Tahapan dimulai dari proteksi sosial berupa charity atau bantuan langsung dan respons cepat, Penguatan Kapasitas berupa pembangunan kemampuan menuju kemandirian, hingga Investasi Sosial untuk jangka menengah dan panjang. Selanjutnya dilakukan Penguatan Sistem kelembagaan serta unit layanan, serta menjalankan aspek Knowledge & Advokasi berupa manajemen pengetahuan dan advokasi kebijakan. Evolusi model pemberdayaan ini bergerak dinamis dari Charity, menuju Community Development, berkembang ke Social Enterprise, hingga menghasilkan Social Impact yang menghadirkan dampak istimewa melalui kolaborasi skema pendanan inovatif atau blended financing. Kanal penghimpunannya memanfaatkan program Ramadhan, program qurban seperti Desaku Berqurban dan Superqurban, pengelolaan ZISWAF dan fidyah, optimalisasi kampanye digital lewat aplikasi, manajemen CSR korporasi, hingga kolaborasi dengan komunitas donatur. Proses pengumpulan dana harian ini berjalan melalui siklus berurutan, mulai dari perancangan program dan dampak, hingga merawat loyalitas dan repeat donasi. Segmentasi donatur ditargetkan secara rapi kepada muzakki individu, korporasi & CSR, komunitas relawan, serta lembaga mitra strategis. Sementara produk penyalurannya dikemas lewat aplikasi digital, program reguler tematik, bantuan kebencanaan nasional, hingga bantuan kemanusiaan luar negeri. Pola komunikasi dampak dibangun secara transparan menggunakan pelaporan real-time dan dashboard digital, dokumentasi berupa metode berkisah (storytelling) penerima manfaat, serta publikasi laporan tahunan berkala. Metode kampanyenya memadukan program reguler, kampanye digital terintegrasi, serta pelibatan jaringan relawan dan influencer sebagai penggerak di lapangan. Capaian dari pengelolaan yang akuntabel ini terbukti mampu mendongkrak kepercayaan donatur. Hasil paling membahagiakan tecermin dari tren transformasi mustahik yang berhasil keluar dari garis kemiskinan, dimana banyak di antara mereka yang naik kelas menjadi seorang munfiq bahkan menjadi muzakki baru. Grafik tren pengetasan kemiskinan bagi peserta program ekonomi terus merangkak naik secara signifikan dari tahun ke tahun. Keberhasilan mengubah mustahik menjadi muzakki salah satunya dicontohkan oleh kisah sukses Pak Sarip Hidayat dari Desa Cipaku, Kabupaten Bandung. Berkat pendampingan dan bantuan modal usaha untuk mengembangkan bisnis yoghurt, produksinya meningkat dua kali lipat dan omzet usahanya melonjak drastis hingga belasan juta rupiah per bulan, sehingga kini beliau bisa ikut memberi manfaat bagi orang lain. selain di dalam negeri, sepak terjang gerakan kemanusiaan juga merambah ke kancah global dengan menjangkau empat kawasan dunia melalui aliansi lintas negara. Dalam menyalurkan bantuan internasional di wilayah krisis, lembaga filantropi harus menerapkan standar pemilihan mitra yang ketat guna menjaga amanah donatur. Standar tersebut meliputi verifikasi akuntabilitas dan legalitas hukum mitra, jaminan akses keamanan penyaluran hingga ke lokasi sasaran, kesesuaian syariah dan ketepatan peruntukan dana, serta sistem pelaporan dampak yang transparan dan terukur. Kolaborasi lintas lembaga, wilayah, dan negara terbukti mampu memperkuat cakupan, kecepatan, dan kepercayaan publik dalam penyaluran bantuan. kinerja tata kelola ini diperkuat lewat kepatuhan audit laporan keuangan dengan opini Wajar tanpa pengecualian (WTP) belasan kali berturut-turut, predikat sangat baik dan transparan dalam audit syariah kementrian Agama, serta kepemilikan sertifikasi sistem manajemen anti-penyuapan ISO 37001:2016. Forum diskusi ini merumuskan tiga rekomendasi kolaborasi bertema Budaya Gotong Royong Indonesia untuk Kemanusiaan Dunia: Membuka mata dan hati pada setiap kesulitan di sekitar kita merupakan cerminan dari kematangan spiritual. Setiap kontribusi yang kita berikan, sekecil apapun itu, adalah jembatan kasih sayang yang mengharumkan martabat dan memberikan harapan baru bagi mereka yang sedang berjuang di tengah keterbatasan. LAZ Zakatel dengan izin no. 485/2022 siap menjadi wasilah yang menyalurkan kepedulian Anda. Salurkan amanah zakat, infak, dan sedekah terbaik Sahabat melalui rekening resmi a.n Zakatel Citra Caraka: BNI: 2.229.222.920 BSI (Infak sedekah): 77.333.333.77 BSI (Zakat): 70.262.223.32 Mandiri: 131.00.1022992.2 Tidak lupa konfirmasi call center kami 0812 2374 1539 (WhatsApp) Semoga kebaikan Sahabat dibalas berkah berlipat serta keluarga selalu diberikan kesehatan, kelancaran rezeki, dan ketenteraman hidup oleh Allah SWT. Aamiin.
Menghormati Martabat Mustahik Serta Muzakki dalam Berdema

Sektor filantropi di Indonesia memiliki peran besar dalam merajut jalinan kepedulian antarsesama. Semangat kebersamaan ini menjadi benang merah utama saat LAZ Zakatel menghadiri forum diskusi BAZNAS Fundraising Forum pada Rabu, 15 Juli 2026 di Daarut Tauhid (DT), Geger Kalong, Bandung. Pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan BAZNAS RI, DT Peduli, Rumah Zakat, BNPB, dan Kementrian Agama RI ini menghadirkan catatan penting dari Bapak M. Arifin Purwakananta selaku Deputi I Bidang Pengumpulan BAZNAS RI. Beliau menekankan sebuah paradigma baru mengenai pentingnya menjalankan fundraising kemanusiaan inklusif sebagai gerakan moral bersama. Kemanusiaan adalah jalan utama dalam Islam sekaligus nilai universal yang melampaui batas identitas. Nilai luhur ini bersandar pada teladan mulia Nabi Muhammad SAW yang selalu menghargai martabat sesama manusia tanpa memandang perbedaan latar belakang. Melalui sudut pandang ini, fundraising atau penggalangan dana harus diartikan sebagai gerakan yang menghargai martabat semua pihak, mengajak partisipasi siapa saja, serta mendorong pemulihan menyeluruh bagi yang ditolong, para penolong, dan lingkungan masyarakat sekitar. Persoalan kemanusiaan di lapangan terlalu besar jika hanya dipikul sendiri sehingga diperlukan kerja sama erat yang merangkul pemerintah, swasta, komunitas, akademisi, hingga masyarakat global. Lembaga kebaikan wajib mewaspadai dua kutub ekstrem yang sering kali merusak esensi gerakan filantropi ini: Sebagai jalan tengah, komunikasi inklusif harus dikedepankan dengan menyebarkan ajaran kebaikan universal, membangun optimisme, serta menggugah kesadaran masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi nyata. Komunikasi inklusif itu sendiri bermakna sebagai cara penyampaian pesan ajakan berderma yang menghormati martabat manusia, jujur, serta adil tanpa membeda-bedakan latar belakang suku maupun golongan. Contohnya ketika menyusun konten program bantuan, tim amil tidak lagi memajang foto mustahik dengan wajah menangis tersedu-sedu atau kondisi yang terkesan dieksploitasi demi memancing rasa iba donatur. sebagai gantinya, menampilkan foto sang penerima manfaat yang sedang tersenyum menerima modal usaha dengan narasi yang fokus pada potensi kemandirian ekonominya di masa depan. Ikhtiar ini membutuhkan cara kerja pengumpulan dana yang bersandarkan pada lima prinsip utama komunikasi inklusif agar membawa perubahan jangka panjang. Pertama, kita harus selalu berpihak pada martabat manusia dengan menceritakan kisah penerima manfaat secara etis, empati, dan atas izin mereka. kedua, keterbukaan informasi harus dijaga lewat transparansi penggunaan dana dan audit yang terbuka untuk umum. Ketiga, pendekatan komunikasi harus fokus menggugah harapan serta potensi pemulihan. Bukan malah menjual kekurangan. Keempat, ruang kolaborasi wajib dibuka seluas-luasnya dengan membagi peran secara sehat. Kelima, program pemulihan harus dirancang secara menyeluruh, tidak hanya fokus pada bantuan fisik untuk korban, tetapi juga memperhatikan kesehatan mental serta apresiasi layak bagi para relawan dan petugas kemanusiaan di lapangan. Hasil akhir dari penggalangan dana pada hakikatnya bukan sekadar urusan mengumpulkan uang melainkan sebuah ikhtiar besar dalam membangun peradaban yang berkeadilan. Langkah praktis dalam mengukur dampak kebaikan ini harus dikerjakan secara profesional mulai dari rencana program berbasis data kebutuhan nyata, pelaksanaan yang partisipatif, monitoring rutin, hingga evaluasi dampak yang jelas. Melalui momentum diskusi forum BAZNAS ini LAZ Zakatel berkomitmen untuk terus menyelaraskan setiap program bantuan agar semakin rapi, transparan, dan berdampak nyata untuk kemaslahatan masyarakat banyak. Membuka mata dan hati pada setiap kesulitan di sekitar kita merupakan cerminan dari kematangan spiritual. Setiap kontribusi yang kita berikan; sekecil apapun itu, adalah jembatan kasih sayang yang mengembalikan martabat dan memberikan harapan baru bagi mereka yang sedang berjuang di tengah keterbatasan. LAZ Zakatel siap menjadi wasilah yang menyalurkan kepedulian Anda. Salurkan amanah zakat, infak, dan sedekah terbaik Sahabat melalui rekening resmi a.n Zakatel Citra Caraka: BNI: 2.229.222.920 BSI (Infak sedekah): 77.333.333.77 BSI (Zakat): 70.262.223.32 Mandiri: 131.00.1022992.2 Tidak lupa konfirmasi call center kami 0812 2374 1539 (WhatsApp) Setiap kepedulian yang kita bagikan menjadi langkah untuk saling memulihkan dan menguatkan solidaritas antarmanusia
Tren Gemar Berbagi Lahirkan Generasi Suka Menolong

Sektor filantropi Islam di tanah air belakangan ini sedang mengalami pergeseran sudut pandang yang sangat mendasar. Pandangan ini mengemuka saat LAZ Zakatel menghadiri forum diskusi BAZNAS Fundraising Forum pada Rabu, 15 Juli 2026 di Daarut Tauhid (DT), Geger Kalong, Bandung. Pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan BAZNAS RI, DT Peduli, Rumah Zakat, BNPB, dan Kementerian Agama RI ini menghadirkan pemaparan mendalam dari Bapak Jajang Nurjaman, S.E selaku Direktur Utama DT Peduli. Beliau menyampaikan sebuah pesan penting mengenai esensi sejati dalam mengelola dana umat melalui materi bertajuk Roots Before Fruits. Prinsip ini mengingatkan kita semua mengapa masa depan zakat tidak ditentukan oleh fundraising, tetapi oleh kemampuan menumbuhkan akar kedermawanan. Landasan utama dari pemikiran ini bersandar pada Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 24-25, yang artinya: “Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik; akarnya kuat menghunjam dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu bagi manusia agar mereka selalu mengambil pelajaran.” Melalui ayat ini kita diajak melihat pentingnya memiliki akar yang kuat agar bisa bertumbuh tinggi dan berbuah setiap waktu. Beliau menekankan pentingnya mengubah kebiasaan lama dalam dunia penghimpunan dana umat. Selama ini, banyak pihak terjebak pada paradigma Lama: Mengecat buah, dimana fokus lembaga hanya tertuju pada akibat, yaitu memoles strategi pengumpulan dana agar angka zakat naik. Pola kerja ini diibaratkan seperti sekadar mewarnai bagian luar buah di pohon, tanpa pernah merawat kesehatan akar dan tanahnya. Pengurus zakat semestinya beralih ke Paradigma Baru yaitu Merawat Akar yang fokus pada penyebab utama, yaitu membangun peradaban, trust, kemakmuran, hingga kesadaran zakat naik dengan cara merawat tanah, air, dan ekosistem masyarakatnya. sebab, fundraising hanyalah akibat, bukan penyebab. Jika melihat urutan Piramida Peradaban Zakat, tugas seorang pengelola dana umat tidak boleh berhenti di permukaan saja. Struktur ini bergerak dari: Banyak institusi yang sering kali berhenti di Level 2 saja. Kita harus mendefinisikan ulang keberhasilan dengan menghindari ilusi indikator ekonomi yang transaksisonal seperti total penghimpunan, jumlah donatur, ROI campaign, atau conversion rate. Sebagai gantinya, lembaga harus menggunakan Civilization KPI atau metrik peradaban, seperti menghitung berapa banyak keluarga yang mulai shalat berjamaah, anak muda yang menjadi relawan, pengusaha yang berzakat, masjid yang menjadi pusat pemberdayaan, hingga kampung yang mandiri secara ekonomi. Kalau metrik peradaban ininaik, maka zakat pasti naik. Oleh karena itu, tujuan utama dalam menumbuhkan manusia dermawan adalah tidak sekadar bercita-cita menjadi lembaga fundraising raksasa. Tugas mulia para amil adalah membangun institusi yang melahirkan masyarakat yang senang memberi, sehingga orang baik bertambah, zakat dan sedekah bertambah, relawan bertambah, kolaborasi meluas, dan negara menjadi kuat. Jajang Nurjaman. Foto: Dokumentasi BAZNAS Fundraising Forum Hal ini sejalan dengan hukum konservasi kebaikan, dimana kebaikan tidak pernah hilang melainkan hanya berpindah bentuk. Siklusnya bermula dari rasa percaya, melahirkan orang baik baru, memberi, mengajak orang lain, hingga merasakan dampak. Kita juga harus bijak melihat tantangan antara teknologi vs hati manusia. Masa depan zakat bukan ditentukan oleh AI, digital, TikTok, atau QRIS, melainkan oleh kecepatan masyarakat melahirkan orang baik berikutnya. Teknologi hanya berfungsi mempercepat, sedangkan yang menggerakkan tetaplah hati manusia. Inti dari prinsip Roots Before Fruits adalah bukan sekadar mengelola uang, tetapi mengelola lahirnya manusia dermawan; bukan sekadar mencari donatur, tetapi menciptakan generasi pemberi; serta bukan sekadar membesarkan lembaga, tetapi membesarkan perdaban. Alur berpikir strategis ini diterapkan melalui Framework 4S DT Peduli untuk membangun solusi berdampak. Tahapannya dimulai dari: Sebagai sesama lembaga penggerak kebaikan di Indonesia, contoh nyata dari konsep ini telah dipraktikkan secara terukur lewat program rumah panggung tetap (Rupatap) di Aceh, gerakan Qurban Impact di 30 negara, hingga program pangan Dapur Indonesia di wilayah konflik. Kehadiran program-program tersebut mengingatkan kita bahwa jangan mulai dari program, melainkan mulailah dari masalah besar, temukan celah sistem, hadirkan solusi terbaik, lalu bangun keunggulan yang tidak mudah ditiru demi melahirkan peradaban yang bermartabat. Melalui momentum diskusi bersama BAZNAS Fundraising Forum ini, mari kita bersama-sama memperkuat kerja sama dan merapatkan barisan. Kami memohon doa serta dukungan tulus dari seluruh lapisan masyarakat agar LAZ Zakatel dapat terus bertumbuh, berkembang semakin maju, profesional, dan memberikan manfaat yang jauh lebih luas bagi sesama yang membutuhkan. LAZ Zakatel siap menjadi jembatan amanah Anda. Salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik Sahabat Zakatel melalui rekening resmi a.n Zakatel Citra Caraka: BNI: 2.229.222.920 BSI (Infak sedekah): 77.333.333.77 BSI (Zakat): 70.262.223.32 Mandiri: 131.00.1022992.2 Tidak lupa konfirmasi call center kami 0812 2374 1539 (WhatsApp) Kedermawanan kita hari ini adalah awal dari sebuah kebaikan. Ia siap tumbuh seperti pohon yang meneduhi bumi, mendatangkan ketenteraman jiwa bagi kelangsungan umat dan bangsa.
Upaya Amil Zakat Hadirkan Ketenteraman Batin Bagi Muzakki

Membicarakan potensi dana umat di tanah air memang tidak ada habisnya. Berdasarkan basis data riset terbaru dari BAZNAS dan Kementrian Agama RI, angka pengumpulan ZISWAF serta Dana Sosial Keagamaan Lainnya (DSKL) di Indonesia sebenarnya berpeluang menyentuh angka raksasa hingga Rp1.000 Triliun. Kesadaran masyarakat kita dalam berderma pun sudah terbukti nyata di lapangan. Pada tahun lalu saja, dana sukarela yang dikumpulkan dari umat sudah mencapai Rp243 Triliun. Angka tersebut lahir dari gabungan Infak Sedekah sebesar Rp221 Triliun, Zakat Fitrah Rp8 Triliun, Zakat Maal Rp27 Triliun, serta nilai aset Wakaf sebesar Rp33 Triliun. Seluruh data perilaku dan kecenderungan para pembayar zakat ini pun sudah tercatat rapi di pusat riset nasional. Catatan penting mengenai pengelolaan dana besar ini menjadi bahasan utama saat LAZ Zakatel menghadiri acara BAZNAS Fundraising Forum pada 15 Juli 2026 di Daarut Tauhid (DT) Geger Kalong, Bandung. Beliau menekankan bahwa penguatan strategi pengumpulan dana di dalam negeri menjadi kunci penting agar gerakan kemanusiaan kita bisa ikut berbicara banyak di level dunia. Dalam penyampaiannya, ada satu pemikiran mendasar yang sangat menarik, yaitu ilmu tentang fundraising harus dimatangkan terlebih dahulu sebelum lembaga sibuk memikirkan urusan penyaluran bantuan. Faktanya, banyak sekali yayasan atau lembaga filantropi di sekitar kita yang memiliki daftar mustahik atau penerima manfaat jauh lebih banyak ketimbang ketersediaan dananya. Kondisi timpang ini membuat napas gerakan sebuah lembaga pada akhirnya sangat bergantung pada keahlian para fundraiser di dalamnya. Sayangnya, profesi fundraiser di mata masyarakat luas sering kali dinilai sempit, hanya sebatas orang yang meminta-minta, pengumpul uang, atau kolektor sumbangan harian saja. Pola pikir yang cuma fokus mencari uang ini justru bisa memicu masalah baru bagi masa depan dakwah. Pengurus zakat semestinya fokus membuat ekosistem kerja yang sehat, ramah, dan transparan. Ketika publik merasa nyaman, memperoleh pengalaman bertransaksi sosial yang mudah, serta mendapatkan kepuasan batin, mereka secara sukarela akan berkomitmen untuk rutin berziswaf tanpa perlu terus-menerus dikejar. Aktivitas mengajak dan berkampanye secara santun agar masyarakat mau menitipkan dana ke lembaga memang sudah menjadi tugas harian. BAZNAS RI sendiri sedang gencar mendorong agar para donatur tidak sekedar melepas uangnya, melainkan bisa merasakan pengalaman batin yang membahagiakan serta membawa perubahan baik bagi spiritualitas mereka. Foto: Dokumentasi BAZNAS Fundraising Forum Menunaikan kewajiban zakat harus dirasakan sebagai proses pembersihan jiwa yang menenangkan hati. Jika program bantuan yang digulirkan tidak meninggalkan bekas mendalam di hati masyarakat, gerakan kedermawanan ini tidak akan pernah semarak. Itulah mengapa urusan fundraising harus memakai ilmu, standar praktik yang jelas, dan menjaga etika profesi. Pengumpul dana tidak boleh sekadar menjual air mata kesusahan atau mengandalkan rasa iba orang lain di media sosial. Edukasi kepada publik harus diarahkan bahwa zakat adalah pondasi utama dalam membangun negara, menjaga peradaban, dan meningkatkan kualitas hidup manusia seutuhnya. Inti gerakan kita adalah menumpuk aset kepercayaan masyarakat lewat kolaborasi erat, bukan malah saling berkompetesi antar-lembaga amil. Selama ini, kita terlalu banyak menonjolkan cerita tentang bagaimana mengubah mustahik menjadi muzakki (pemberi zakat). Namun, kita hampir lupa memperhatikan sisi psikologis para muzakki. sangat jarang ada gerakan mengevaluasi apakah para donatur ini merasa bahagia, mendapatkan pencerahan pikiran, atau hidupnya menjadi lebih sakinah setelah rutin berzakat. Sebagai gambaran, lembaga penghimpunan dana di wilayah Amerika, Eropa, dan Asia Pasifik sudah memiliki asosiasi fundraiser resmi dengan anggota lebih dari 30 ribu orang demi menjaga profesionalitas kerja dan mengukur dampak bantuan secara nyata. Berangkat dari kebutuhan mendasar di Indonesia tersebut, forum diskusi ini melahirkan gagasan penting untuk mendirikan Asosiasi Fundraising Indonesia (AFI). Kehadiran AFI dirancang untuk menjadi rumah bersama yang memuliakan profesi fundraiser agar berjalan lebih teratur, jujur, serta terpercaya. Gagasan berdirinya AFI ini didasari oleh visi besar untuk menciptakan organisasi profesi fundraiser yang profesional dan berkelas dunia demi menguatkan budaya kedermawanan di tanah air. Untuk mencapai tujuan itu, misi organisasi dijalankan lewat serangkaian program nyata, mulai dari menyusun standar kompetensi nasional, sertifikasi profesi resmi, pendirian Akademi Fundraising Indonesia, pembuatan jurnal khusus, hingga penyusunan indeks kepercayaan donatur nasional. AFI memegang nilai penting berupa integritas, profesionalisme, kolaborasi, inovasi, akuntabilitas, empati, dan berkelanjutan. Organisasi profesi ini dirancang terbuka secara inklusif bagi seluruh elemen filantropi indonesia. Keanggotaannya mencakup para praktisi fundraising di BAZNAS, lembaga amil zakat (LAZ), yayasan sosial, pesantren, pengelola wakaf, rumah sakit, praktisi CSR perusahaan, hingga kalangan dosen dan mahasiswa. Melalui delapan program strategis yang disiapkan untuk lima tahun pertama, AFI siap mengambil peran sebagai pusat riset publikasi, mediator kolaborasi antarorganisasi, serta mitra strategis pemerintah dalam menyusun kebijakan kedermawanan nasional. Pada akhirnya, nilai kesuksesan dari gerakan kebaikan ini tidak sekadar dihitung dari banyaknya dana yang dikumpulkan, melainkan seberapa besar kepercayaan masyarakat yang bisa dirawat bersama. Melalui inisiatif ini, mari kita dukung satu profesi, satu standar, dan satu gerakan demi mewujudkan masa depan filantropi indonesia yang lebih berkah, tertata, dan merata. Sebagai tanggung jawab kami dalam memperluas manfaat bagi sesama, LAZ Zakatel siap menjadi jembatan amanah Anda. Salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik Sahabat Zakatel melalui rekning resmi a.n Zakatel Citra Caraka: BNI: 2.229.222.920 BSI (Infak sedekah): 77.333.333.77 BSI (Zakat): 70.262.223.32 Mandiri: 131.00.1022992.2 Jangan lupa melakukan konfirmasi ke official Call Center kami di 0812 2374 1539 (WhatsApp). Mari bersama-sama kita ubah titipan zakat menjadi berkah yang mengalir tanpa putus, sekaligus menjadi diri kita pribadi yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Baarakallahu fiikum.
Mengurai Tantangan Penghimpunan ZISWAF di Lapangan

Gerakan zakat di Indonesia sebenarnya punya potensi besar dari kebaikan hati masyarakat kita. Menjawab hal tersebut, LAZ Zakatel berkesempatan hadir dalam acara BAZNAS Fundraising Forum pada 15 Juli 2026 di Daarut Tauhid (DT) Geger Kalong, Bandung. Acara ini mempertemukan para penggerak kebaikan dari BAZNAS RI, DT Peduli, Rumah Zakat, BNPB, hingga Kementrian Agama RI. Salah satu materi penting dalam pertemuan ini diusampaikan oleh Bapak H.Idy Muzayyad, S.H.I, M.Si. selaku Pimpinan Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan BAZNAS RI. Beliau mengingatkan pentingnya memperkuat cara mengurus zakat di dalam negeri agar kita bisa ikut membantu urusan kemanusiaan di berbagai belahan dunia. Dalam forum tersebut dibahas mengenai mengapa gerakan zakat oleh amil saat ini masih belum maksimal. Ternyata, mengelola zakat itu bukan hanya sekadar memberi uang atau bantuan, tapi bagaimana mengelolanya dengan amanah, profesional dan memberikan dampak yang nyata. Setidaknya, ada delapan kendala utama di lapangan yang harus kita benahi bersama secara bertahap. Tantangan pertama adalah pemahaman zakat di masyarakat yang masih minim, terutama soal aturan, manfaat, dan skala prioritas penerima zakat secara benar. Hal ini berpengaruh ke tantangan kedua, yaitu kepercayaan masyarakat kepada lembaga amil yang belum merata, sehingga lembaga perlu terus terbuka, jujur, dan rajin memberikan laporan kepada publik. Pada bagian data, tantangan ketiga muncul karena potensi zakat belum tercatat rapi, sebab data pemberi zakat dan penerima manfaat belum saling terhubung dengan pas. Kondisi ini ditambah lagi dengan tantangan keempat, yaitu urusan digitalisasi pengumpulan dan pelayanan zakat yang belum tersebar merata di seluruh daerah. Tantangan kelima adalah kerja sama antara pihak pemerintah, ulama, dan lembaga zakat yang belum berjalan kompak dalam membuat aturan yang mendukung. Sementara tantangan keenam ada di internal lembaga sendiri, yaitu jumlah dan keahlian amil profesional yang masih terbatas dari sisi kemampuan, kejujuran, maupun jaminan kesejahteraanya. Dua tantangan terakhir menegaskan masih kurangnya sosialisasi ke masyarakat tentang hasil nyata dari program zakat produktif, serta belum eratnya kerja sama antar-lembaga amil zakat untuk bergerak kompak dalam satu sistem yang sama. Melihat berbagai kendala di atas, forum ini merumuskan lima langkah solusi yang bisa langsung kita praktikkan sehari-hari. Sebagai langkah konkret, solusi kolaborasi tadi diturunkan ke dalam delapan bentuk kegiatan yang dilakukan antar-lembaga amil zakat: Foto: Dokumentasi BAZNAS Fundraising Forum Ketika semua bagian kerja harian dan kolaborasi ini bisa berjalan seirama maka zakat yang dikelola secara profesional akan semakin besar manfaatnya bagi kesejahteraan masyarakat banyak. Tugas mengumpulkan dan menyalurkan zakat, infak, serta sedekah ini jelas bukan perkara yang mudah, melainkan sebuah tanggung jawab mulia yang punya dasar kuat dalam agama. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Munafiqun ayat 10: “Dan Infakkanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata dengan menyesal, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.’” Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya peran para penggerak kebaikan atau amil dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Muslim: “Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan, sama pahalanya seperti orang yang melakukannya.” Melalui helatan BAZNAS Fundraising Forum ini, mari kita rapatkan barisan, satukan potensi, dan kuatkan kerja sama demi kebaikan masyarakat yang lebih luas. Sebagai bentuk tanggung jawab dalam merapikan operasional lembaga dan memperluas manfaat bagi sesama, LAZ Zakatel siap menjadi jembatan amanah Anda. Salurkan amanah zakat, infak, dan sedekah terbaik Sahabat Zakatel melalui rekening resmi a.n Zakatel Citra Caraka: BNI: 2.229.222.920 BSI (Infak sedekah): 77.333.333.77 BSI (Zakat): 70.262.223.32 Mandiri: 131.00.1022992.2 Jangan lupa melakukan konfirmasi melalui official Call Center kami di 0812 2374 1539 (WhatsApp). Mari bersama-sama kita ubah titipan zakat menjadi berkah yang mengalir tanpa putus. Baarakallahu fiikum.
Menyelaraskan Ikhtiar Amil Zakat Demi Kemaslahatan Umat

Ekosistem zakat dan infak hari ini menuntut kecakapan kemampuan yang bukan sekadar wacana. Menjawab tantangan zaman, LAZ Zakatel berkesempatan hadir dalam helatan BAZNAS Fundraising Forum pada 15 Juli 2026 di Daarut Tauhid (DT) Geger Kalong, Bandung. Forum ini mempertemukan para penggerak kebaikan dari BAZNAS RI, DT Peduli, Rumah Zakat, BNPB, hingga Kementrian Agama RI. Salah satu esensi penting yang mengemuka dalam forum ini disampaikan oleh Ir. Bascharul Asana, MBA selaku Ketua Yayasan DT Peduli. Beliau menggarisbawahi pentingnya penguatan ekosistem zakat nasional agar mampu berkontribusi nyata dalam gerakan kemanusiaan di kancah global. Mari kita bedah gagasan tersebut. Agar menghadirkan dampak sosial yang masif, pengelolaan zakat membutuhkan satu peta jalan manajemen yang utuh. peta jalan ini berjalan secara berurutan melalui empat fase makro, yaitu Environmental Scanning, Strategy Formulation, Strategy Implementation, serta Evaluation and Control. Pertama, Environmental Scanning atau Pemindaian Lingkungan. Langkah awal kita adalah membaca zaman. Kita harus jeli memetakan peluang, menangkap kegelisahan masyarakat, serta mengidentifikasi dinamika internal maupun eksternal lembaga. Kedua, Strategy Formulation atau Formula Strategi. Setelah memahami medan, kita merancang visi, misi, dan cetak biru kebijakan yang adaptif. Di sinilah arah perjuangan dan khidmah lembaga diputuskan. Ketiga, Strategy Implementation atau Implementasi Strategi. Rencana terbaik adalah rencana yang membumi. Pada tahap ini, seluruh rumusan kebijakan dieksekusi menjadi program-program pemberdayaan nyata yang menyentuh akar rumput. Keempat, Evaluation and Control atau Evaluasi dan Kontrol. Ikhtiar harus selalu diukur. kita melakukan pengawasan berkala dan perbaikan demi memastikan akuntabilitas serta transparansi publik tetap terjaga. Berangkat dari empat siklus di atas, lahirlah model hubungan antarvariabel yang saling menguatkan demi mendongkrak performa lembaga dari hulu ke hilir, yaitu External Forces (Kekuatan Eksternal). Lembaga zakat tidak hidup di ruang hampa. Ada faktor luar yang konstan bergerak dan wajib kita antisipasi bersama, yaitu Regulatory Environment (kebijakan dan payung hukum formal dari pemerintah yang mengatur tata kelola zakat), Technological Trend (laju inovasi teknologi digital yang mengubah lanskap interaksi manusia), Inter-Agency Forces (dinamika relasi serta sinergi kelembagaan antarinstansi) dan Dynamic Organization Capability (Kapabilitas Organisasi Dinamis). Menghadapi dunia yang dinamis, bagian internal lembaga harus memiliki motor penggerak yang kuat. Ini mencakup : Ketika kekuatan internal berpadu dengan pemahaman eksternal, maka lahirlah strategi kerja sama yang kokoh. Strategi ini ditopang oleh Mutual Trust (rasa saling percaya yang tulus antarlembaga filantropi), Collaboration Agility (kecepatan dan keluwesan dalam menangkap peluang kerja sama demi kemaslahatan umat), Digital Interoperability (keterhubungan sistem teknologi agar data dapat mengalir secara aman, cepat, dan terintegrasi) dan Operational Excellence Mgt (Manajemen Keunggulan Operasional). Foto: Dokumentasi BAZNAS Fundraising Forum Sinergi yang lincah pada akhirnya membuahkan standarisasi kerja harian yang prima. Hal ini tercermin dari: Inilah muara akhir yang kita tuju bersama. ketika seluruh mesin organisasi bergerak selaras, maka akan lahir buah manis berupa Stakeholders Confidence (tumbuhnya kepercayaan yang mendalam dari para donatur, mitra, masyarakat, dan pemerintah) serta Social Impact (kehadiran lembaga benar-benar memberikan dampak sosial yang luas, mengentaskan kemiskinan, serta mengangkat harkat kemanusiaan di panggung global). Tugas mengumpulkan dan menyalurkan zakat, infak, serta sedekah bukanlah tugas yang ringan, melainkan sebuah amanah mulia yang memiliki sandaran kokoh dalam syariat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya peran para penggerak kebaikan atau amil dalam sebuah hadist sahih riwayat Imam Muslim: “Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan, sama pahalanya seperti orang yang melakukannya.” Melalui momentum BAZNAS Fundraising Forum ini, mari kita rekatkan barisan, satukan potensi, dan kuatkan kolaborasi demi kemaslahatan umat yang lebih luas. Salurkan Kepedulian Anda Bersama LAZ Zakatel sebagai wujud komitmen membangun Operational Excellence dan memperluas Social Impact. LAZ Zakatel siap menjadi jembatan amanah Anda. Salurkan amanah zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui rekening a.n Zakatel Citra Caraka: BNI: 2.229.222.920 BSI (Infak sedekah): 77.333.333.77 BSI (Zakat): 70.262.223.32 Mandiri: 131.00.1022992.2 Jangan lupa melakukan konfirmasi melalui official Call Center kami di 0812 2374 1539 (WhatsApp). Mari bersama-sama kita angkat energi zakat menjadi berkah yang mengalir tanpa batas. Baarakallahu fiikum.
Pelaksanaan dan Sunnah-Sunnah di Hari Raya Iduladha

Iduladha menjadi momen bagi umat Islam untuk mengenang kisah Nabi Ibrahim a.s. saat menerima ujian terberat dari Allah SWT, yaitu merelakan putra tercintanya, Nabi Ismail a.s. Ujian ini sungguh mendalam, mengingat Nabi Ibrahim a.s. dan Sarah telah menanti kehadiran buah hati selama puluhan tahun hingga usia senja. Bersama keikhlasan Sarah yang meminta sang suami menikahi Hajar, Allah SWT akhirnya menjawab kerinduan mereka. Lahirlah Nabi Ismail a.s., sang pelipur lara yang begitu dinantikan di tengah keluarga. Namun, saat Nabi Ismail a.s. baru beranjak remaja, Allah SWT menguji cinta mereka melalui perintah untuk menyembelih sang putra. Di sinilah keindahan akhlak ayah dan anak terpancar. Tanpa keraguan, Nabi Ibrahim a.s. menyampaikan wahyu tersebut dan Nabi Ismail a.s. dengan meneguhkan hati meminta sang ayah menaati perintah-Nya. Berkat ketulusan ini, Allah SWT menyelamatkan Nabi Ismail a.s. di detik-detik terakhir dan menggantikannya dengan seekor domba. Peristiwa ini pun menjadi dasar disyariatkannya ibadah penyembelihan hewan kurban (seperti unta, sapi, kambing, atau domba) setiap tahun. Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. dapat Sobat Zakatel baca dalam Al-Qur’an Surat As-Saffat (37) ayat 99 sampai 111. Hukum dan Waktu Pelaksanaan Salat Iduladha Menukil lampung.baznas.go.id (27/4), hukum Salat Idul Adha adalah sunnah muakkadah, artinya sangat dianjurkan untuk dilaksanakan baik bagi laki-laki maupun perempuan, bahkan bagi mereka yang sedang dalam perjalanan sekalipun. Waktu pelaksanaan Salat Idul Adha dimulai sejak matahari terbit setinggi tombak (sekitar 15–20 menit setelah terbit) hingga sebelum masuk waktu Dzuhur. Namun, disunnahkan untuk melaksanakannya lebih awal dibandingkan salat Idulfitri agar memberi kesempatan lebih luas untuk prosesi ibadah kurban setelahnya. Niat Salat Iduladha Bacaan niatnya salat Idualdha Artinya: Saya niat salat sunnah Iduladha dua rakaat sebagai makmum/imam karena Allah Ta’ala. Tata Cara Salat Idul Adha Salat Idul Adha terdiri dari dua rakaat dengan tambahan takbir. Berikut langkah-langkahnya: Rakaat Pertama: Rakaat Kedua: Setelah selesai salat Iduladha, disunnahkan menyimak khutbah yang disampaikan oleh khatib karena mengandung banyak nasihat dan pelajaran. Khutbah biasanya terdiri dari dua bagian yang dipisahkan dengan duduk sejenak. Sunnah-Sunnah dalam salat Iduladha Agar pelaksanaan salat Iduladha semakin sempurna terdapat beberapa sunnah yang dianjurkan, antara lain: Sunnah-sunnah ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keindahan, kebersihan, dan semangat kebersamaan dalam beribadah. Semoga kita dapat mengikuti pelaksanaannya dengan baik serta dapat meneladani ketaatan dan keikhlasan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. Sobat Zakatel, mari meraih pahala jariyah dengan menebar manfaat bagi sesama. LAZ Zakatel menerima dan menyalurkan titipan kurban Anda melalui rekening berikut: 💳 BNI: 2.229.222.920 💳 BSI: 77.333.333.77 a.n Zakatel Citra Caraka 📲 Tidak lupa konfirmasi official call center kami: 0812 2374 1539 “Tapi gimana kalau budgetnya belum cukup buat kurban?” Tenang, Sobat tetap bisa mendapat pahala dengan berbuat baik melalui infak kurban mulai Rp50.000. Nantinya infak disalurkan untuk: Mari berkurban melalui Zakatel. Informasi lebih lanjut kontak Call Center kami 0812 2374 1539. Barakallahu fiikum.