Menghormati Martabat Mustahik Serta Muzakki dalam Berdema

Sektor filantropi di Indonesia memiliki peran besar dalam merajut jalinan kepedulian antarsesama. Semangat kebersamaan ini menjadi benang merah utama saat LAZ Zakatel menghadiri forum diskusi BAZNAS Fundraising Forum pada Rabu, 15 Juli 2026 di Daarut Tauhid (DT), Geger Kalong, Bandung. Pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan BAZNAS RI, DT Peduli, Rumah Zakat, BNPB, dan Kementrian Agama RI ini menghadirkan catatan penting dari Bapak M. Arifin Purwakananta selaku Deputi I Bidang Pengumpulan BAZNAS RI. Beliau menekankan sebuah paradigma baru mengenai pentingnya menjalankan fundraising kemanusiaan inklusif sebagai gerakan moral bersama. Kemanusiaan adalah jalan utama dalam Islam sekaligus nilai universal yang melampaui batas identitas. Nilai luhur ini bersandar pada teladan mulia Nabi Muhammad SAW yang selalu menghargai martabat sesama manusia tanpa memandang perbedaan latar belakang. Melalui sudut pandang ini, fundraising atau penggalangan dana harus diartikan sebagai gerakan yang menghargai martabat semua pihak, mengajak partisipasi siapa saja, serta mendorong pemulihan menyeluruh bagi yang ditolong, para penolong, dan lingkungan masyarakat sekitar. Persoalan kemanusiaan di lapangan terlalu besar jika hanya dipikul sendiri sehingga diperlukan kerja sama erat yang merangkul pemerintah, swasta, komunitas, akademisi, hingga masyarakat global. Lembaga kebaikan wajib mewaspadai dua kutub ekstrem yang sering kali merusak esensi gerakan filantropi ini: Sebagai jalan tengah, komunikasi inklusif harus dikedepankan dengan menyebarkan ajaran kebaikan universal, membangun optimisme, serta menggugah kesadaran masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi nyata. Komunikasi inklusif itu sendiri bermakna sebagai cara penyampaian pesan ajakan berderma yang menghormati martabat manusia, jujur, serta adil tanpa membeda-bedakan latar belakang suku maupun golongan. Contohnya ketika menyusun konten program bantuan, tim amil tidak lagi memajang foto mustahik dengan wajah menangis tersedu-sedu atau kondisi yang terkesan dieksploitasi demi memancing rasa iba donatur. sebagai gantinya, menampilkan foto sang penerima manfaat yang sedang tersenyum menerima modal usaha dengan narasi yang fokus pada potensi kemandirian ekonominya di masa depan. Ikhtiar ini membutuhkan cara kerja pengumpulan dana yang bersandarkan pada lima prinsip utama komunikasi inklusif agar membawa perubahan jangka panjang. Pertama, kita harus selalu berpihak pada martabat manusia dengan menceritakan kisah penerima manfaat secara etis, empati, dan atas izin mereka. kedua, keterbukaan informasi harus dijaga lewat transparansi penggunaan dana dan audit yang terbuka untuk umum. Ketiga, pendekatan komunikasi harus fokus menggugah harapan serta potensi pemulihan. Bukan malah menjual kekurangan. Keempat, ruang kolaborasi wajib dibuka seluas-luasnya dengan membagi peran secara sehat. Kelima, program pemulihan harus dirancang secara menyeluruh, tidak hanya fokus pada bantuan fisik untuk korban, tetapi juga memperhatikan kesehatan mental serta apresiasi layak bagi para relawan dan petugas kemanusiaan di lapangan. Hasil akhir dari penggalangan dana pada hakikatnya bukan sekadar urusan mengumpulkan uang melainkan sebuah ikhtiar besar dalam membangun peradaban yang berkeadilan. Langkah praktis dalam mengukur dampak kebaikan ini harus dikerjakan secara profesional mulai dari rencana program berbasis data kebutuhan nyata, pelaksanaan yang partisipatif, monitoring rutin, hingga evaluasi dampak yang jelas. Melalui momentum diskusi forum BAZNAS ini LAZ Zakatel berkomitmen untuk terus menyelaraskan setiap program bantuan agar semakin rapi, transparan, dan berdampak nyata untuk kemaslahatan masyarakat banyak. Membuka mata dan hati pada setiap kesulitan di sekitar kita merupakan cerminan dari kematangan spiritual. Setiap kontribusi yang kita berikan; sekecil apapun itu, adalah jembatan kasih sayang yang mengembalikan martabat dan memberikan harapan baru bagi mereka yang sedang berjuang di tengah keterbatasan. LAZ Zakatel siap menjadi wasilah yang menyalurkan kepedulian Anda. Salurkan amanah zakat, infak, dan sedekah terbaik Sahabat melalui rekening resmi a.n Zakatel Citra Caraka: BNI: 2.229.222.920 BSI (Infak sedekah): 77.333.333.77 BSI (Zakat): 70.262.223.32 Mandiri: 131.00.1022992.2 Tidak lupa konfirmasi call center kami 0812 2374 1539 (WhatsApp) Setiap kepedulian yang kita bagikan menjadi langkah untuk saling memulihkan dan menguatkan solidaritas antarmanusia

Tren Gemar Berbagi Lahirkan Generasi Suka Menolong

Sektor filantropi Islam di tanah air belakangan ini sedang mengalami pergeseran sudut pandang yang sangat mendasar. Pandangan ini mengemuka saat LAZ Zakatel menghadiri forum diskusi BAZNAS Fundraising Forum pada Rabu, 15 Juli 2026 di Daarut Tauhid (DT), Geger Kalong, Bandung. Pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan BAZNAS RI, DT Peduli, Rumah Zakat, BNPB, dan Kementerian Agama RI ini menghadirkan pemaparan mendalam dari Bapak Jajang Nurjaman, S.E selaku Direktur Utama DT Peduli. Beliau menyampaikan sebuah pesan penting mengenai esensi sejati dalam mengelola dana umat melalui materi bertajuk Roots Before Fruits. Prinsip ini mengingatkan kita semua mengapa masa depan zakat tidak ditentukan oleh fundraising, tetapi oleh kemampuan menumbuhkan akar kedermawanan. Landasan utama dari pemikiran ini bersandar pada Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 24-25, yang artinya: “Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik; akarnya kuat menghunjam dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu bagi manusia agar mereka selalu mengambil pelajaran.” Melalui ayat ini kita diajak melihat pentingnya memiliki akar yang kuat agar bisa bertumbuh tinggi dan berbuah setiap waktu. Beliau menekankan pentingnya mengubah kebiasaan lama dalam dunia penghimpunan dana umat. Selama ini, banyak pihak terjebak pada paradigma Lama: Mengecat buah, dimana fokus lembaga hanya tertuju pada akibat, yaitu memoles strategi pengumpulan dana agar angka zakat naik. Pola kerja ini diibaratkan seperti sekadar mewarnai bagian luar buah di pohon, tanpa pernah merawat kesehatan akar dan tanahnya. Pengurus zakat semestinya beralih ke Paradigma Baru yaitu Merawat Akar yang fokus pada penyebab utama, yaitu membangun peradaban, trust, kemakmuran, hingga kesadaran zakat naik dengan cara merawat tanah, air, dan ekosistem masyarakatnya. sebab, fundraising hanyalah akibat, bukan penyebab. Jika melihat urutan Piramida Peradaban Zakat, tugas seorang pengelola dana umat tidak boleh berhenti di permukaan saja. Struktur ini bergerak dari: Banyak institusi yang sering kali berhenti di Level 2 saja. Kita harus mendefinisikan ulang keberhasilan dengan menghindari ilusi indikator ekonomi yang transaksisonal seperti total penghimpunan, jumlah donatur, ROI campaign, atau conversion rate. Sebagai gantinya, lembaga harus menggunakan Civilization KPI atau metrik peradaban, seperti menghitung berapa banyak keluarga yang mulai shalat berjamaah, anak muda yang menjadi relawan, pengusaha yang berzakat, masjid yang menjadi pusat pemberdayaan, hingga kampung yang mandiri secara ekonomi. Kalau metrik peradaban ininaik, maka zakat pasti naik. Oleh karena itu, tujuan utama dalam menumbuhkan manusia dermawan adalah tidak sekadar bercita-cita menjadi lembaga fundraising raksasa. Tugas mulia para amil adalah membangun institusi yang melahirkan masyarakat yang senang memberi, sehingga orang baik bertambah, zakat dan sedekah bertambah, relawan bertambah, kolaborasi meluas, dan negara menjadi kuat. Jajang Nurjaman. Foto: Dokumentasi BAZNAS Fundraising Forum Hal ini sejalan dengan hukum konservasi kebaikan, dimana kebaikan tidak pernah hilang melainkan hanya berpindah bentuk. Siklusnya bermula dari rasa percaya, melahirkan orang baik baru, memberi, mengajak orang lain, hingga merasakan dampak. Kita juga harus bijak melihat tantangan antara teknologi vs hati manusia. Masa depan zakat bukan ditentukan oleh AI, digital, TikTok, atau QRIS, melainkan oleh kecepatan masyarakat melahirkan orang baik berikutnya. Teknologi hanya berfungsi mempercepat, sedangkan yang menggerakkan tetaplah hati manusia. Inti dari prinsip Roots Before Fruits adalah bukan sekadar mengelola uang, tetapi mengelola lahirnya manusia dermawan; bukan sekadar mencari donatur, tetapi menciptakan generasi pemberi; serta bukan sekadar membesarkan lembaga, tetapi membesarkan perdaban. Alur berpikir strategis ini diterapkan melalui Framework 4S DT Peduli untuk membangun solusi berdampak. Tahapannya dimulai dari: Sebagai sesama lembaga penggerak kebaikan di Indonesia, contoh nyata dari konsep ini telah dipraktikkan secara terukur lewat program rumah panggung tetap (Rupatap) di Aceh, gerakan Qurban Impact di 30 negara, hingga program pangan Dapur Indonesia di wilayah konflik. Kehadiran program-program tersebut mengingatkan kita bahwa jangan mulai dari program, melainkan mulailah dari masalah besar, temukan celah sistem, hadirkan solusi terbaik, lalu bangun keunggulan yang tidak mudah ditiru demi melahirkan peradaban yang bermartabat. Melalui momentum diskusi bersama BAZNAS Fundraising Forum ini, mari kita bersama-sama memperkuat kerja sama dan merapatkan barisan. Kami memohon doa serta dukungan tulus dari seluruh lapisan masyarakat agar LAZ Zakatel dapat terus bertumbuh, berkembang semakin maju, profesional, dan memberikan manfaat yang jauh lebih luas bagi sesama yang membutuhkan. LAZ Zakatel siap menjadi jembatan amanah Anda. Salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik Sahabat Zakatel melalui rekening resmi a.n Zakatel Citra Caraka: BNI: 2.229.222.920 BSI (Infak sedekah): 77.333.333.77 BSI (Zakat): 70.262.223.32 Mandiri: 131.00.1022992.2 Tidak lupa konfirmasi call center kami 0812 2374 1539 (WhatsApp) Kedermawanan kita hari ini adalah awal dari sebuah kebaikan. Ia siap tumbuh seperti pohon yang meneduhi bumi, mendatangkan ketenteraman jiwa bagi kelangsungan umat dan bangsa.

Upaya Amil Zakat Hadirkan Ketenteraman Batin Bagi Muzakki

Membicarakan potensi dana umat di tanah air memang tidak ada habisnya. Berdasarkan basis data riset terbaru dari BAZNAS dan Kementrian Agama RI, angka pengumpulan ZISWAF serta Dana Sosial Keagamaan Lainnya (DSKL) di Indonesia sebenarnya berpeluang menyentuh angka raksasa hingga Rp1.000 Triliun. Kesadaran masyarakat kita dalam berderma pun sudah terbukti nyata di lapangan. Pada tahun lalu saja, dana sukarela yang dikumpulkan dari umat sudah mencapai Rp243 Triliun. Angka tersebut lahir dari gabungan Infak Sedekah sebesar Rp221 Triliun, Zakat Fitrah Rp8 Triliun, Zakat Maal Rp27 Triliun, serta nilai aset Wakaf sebesar Rp33 Triliun. Seluruh data perilaku dan kecenderungan para pembayar zakat ini pun sudah tercatat rapi di pusat riset nasional. Catatan penting mengenai pengelolaan dana besar ini menjadi bahasan utama saat LAZ Zakatel menghadiri acara BAZNAS Fundraising Forum pada 15 Juli 2026 di Daarut Tauhid (DT) Geger Kalong, Bandung. Beliau menekankan bahwa penguatan strategi pengumpulan dana di dalam negeri menjadi kunci penting agar gerakan kemanusiaan kita bisa ikut berbicara banyak di level dunia. Dalam penyampaiannya, ada satu pemikiran mendasar yang sangat menarik, yaitu ilmu tentang fundraising harus dimatangkan terlebih dahulu sebelum lembaga sibuk memikirkan urusan penyaluran bantuan. Faktanya, banyak sekali yayasan atau lembaga filantropi di sekitar kita yang memiliki daftar mustahik atau penerima manfaat jauh lebih banyak ketimbang ketersediaan dananya. Kondisi timpang ini membuat napas gerakan sebuah lembaga pada akhirnya sangat bergantung pada keahlian para fundraiser di dalamnya. Sayangnya, profesi fundraiser di mata masyarakat luas sering kali dinilai sempit, hanya sebatas orang yang meminta-minta, pengumpul uang, atau kolektor sumbangan harian saja. Pola pikir yang cuma fokus mencari uang ini justru bisa memicu masalah baru bagi masa depan dakwah. Pengurus zakat semestinya fokus membuat ekosistem kerja yang sehat, ramah, dan transparan. Ketika publik merasa nyaman, memperoleh pengalaman bertransaksi sosial yang mudah, serta mendapatkan kepuasan batin, mereka secara sukarela akan berkomitmen untuk rutin berziswaf tanpa perlu terus-menerus dikejar. Aktivitas mengajak dan berkampanye secara santun agar masyarakat mau menitipkan dana ke lembaga memang sudah menjadi tugas harian. BAZNAS RI sendiri sedang gencar mendorong agar para donatur tidak sekedar melepas uangnya, melainkan bisa merasakan pengalaman batin yang membahagiakan serta membawa perubahan baik bagi spiritualitas mereka. Foto: Dokumentasi BAZNAS Fundraising Forum Menunaikan kewajiban zakat harus dirasakan sebagai proses pembersihan jiwa yang menenangkan hati. Jika program bantuan yang digulirkan tidak meninggalkan bekas mendalam di hati masyarakat, gerakan kedermawanan ini tidak akan pernah semarak. Itulah mengapa urusan fundraising harus memakai ilmu, standar praktik yang jelas, dan menjaga etika profesi. Pengumpul dana tidak boleh sekadar menjual air mata kesusahan atau mengandalkan rasa iba orang lain di media sosial. Edukasi kepada publik harus diarahkan bahwa zakat adalah pondasi utama dalam membangun negara, menjaga peradaban, dan meningkatkan kualitas hidup manusia seutuhnya. Inti gerakan kita adalah menumpuk aset kepercayaan masyarakat lewat kolaborasi erat, bukan malah saling berkompetesi antar-lembaga amil. Selama ini, kita terlalu banyak menonjolkan cerita tentang bagaimana mengubah mustahik menjadi muzakki (pemberi zakat). Namun, kita hampir lupa memperhatikan sisi psikologis para muzakki. sangat jarang ada gerakan mengevaluasi apakah para donatur ini merasa bahagia, mendapatkan pencerahan pikiran, atau hidupnya menjadi lebih sakinah setelah rutin berzakat. Sebagai gambaran, lembaga penghimpunan dana di wilayah Amerika, Eropa, dan Asia Pasifik sudah memiliki asosiasi fundraiser resmi dengan anggota lebih dari 30 ribu orang demi menjaga profesionalitas kerja dan mengukur dampak bantuan secara nyata. Berangkat dari kebutuhan mendasar di Indonesia tersebut, forum diskusi ini melahirkan gagasan penting untuk mendirikan Asosiasi Fundraising Indonesia (AFI). Kehadiran AFI dirancang untuk menjadi rumah bersama yang memuliakan profesi fundraiser agar berjalan lebih teratur, jujur, serta terpercaya. Gagasan berdirinya AFI ini didasari oleh visi besar untuk menciptakan organisasi profesi fundraiser yang profesional dan berkelas dunia demi menguatkan budaya kedermawanan di tanah air. Untuk mencapai tujuan itu, misi organisasi dijalankan lewat serangkaian program nyata, mulai dari menyusun standar kompetensi nasional, sertifikasi profesi resmi, pendirian Akademi Fundraising Indonesia, pembuatan jurnal khusus, hingga penyusunan indeks kepercayaan donatur nasional. AFI memegang nilai penting berupa integritas, profesionalisme, kolaborasi, inovasi, akuntabilitas, empati, dan berkelanjutan. Organisasi profesi ini dirancang terbuka secara inklusif bagi seluruh elemen filantropi indonesia. Keanggotaannya mencakup para praktisi fundraising di BAZNAS, lembaga amil zakat (LAZ), yayasan sosial, pesantren, pengelola wakaf, rumah sakit, praktisi CSR perusahaan, hingga kalangan dosen dan mahasiswa. Melalui delapan program strategis yang disiapkan untuk lima tahun pertama, AFI siap mengambil peran sebagai pusat riset publikasi, mediator kolaborasi antarorganisasi, serta mitra strategis pemerintah dalam menyusun kebijakan kedermawanan nasional. Pada akhirnya, nilai kesuksesan dari gerakan kebaikan ini tidak sekadar dihitung dari banyaknya dana yang dikumpulkan, melainkan seberapa besar kepercayaan masyarakat yang bisa dirawat bersama. Melalui inisiatif ini, mari kita dukung satu profesi, satu standar, dan satu gerakan demi mewujudkan masa depan filantropi indonesia yang lebih berkah, tertata, dan merata. Sebagai tanggung jawab kami dalam memperluas manfaat bagi sesama, LAZ Zakatel siap menjadi jembatan amanah Anda. Salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik Sahabat Zakatel melalui rekning resmi a.n Zakatel Citra Caraka: BNI: 2.229.222.920 BSI (Infak sedekah): 77.333.333.77 BSI (Zakat): 70.262.223.32 Mandiri: 131.00.1022992.2 Jangan lupa melakukan konfirmasi ke official Call Center kami di 0812 2374 1539 (WhatsApp). Mari bersama-sama kita ubah titipan zakat menjadi berkah yang mengalir tanpa putus, sekaligus menjadi diri kita pribadi yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Baarakallahu fiikum.

Mengurai Tantangan Penghimpunan ZISWAF di Lapangan

Gerakan zakat di Indonesia sebenarnya punya potensi besar dari kebaikan hati masyarakat kita. Menjawab hal tersebut, LAZ Zakatel berkesempatan hadir dalam acara BAZNAS Fundraising Forum pada 15 Juli 2026 di Daarut Tauhid (DT) Geger Kalong, Bandung. Acara ini mempertemukan para penggerak kebaikan dari BAZNAS RI, DT Peduli, Rumah Zakat, BNPB, hingga Kementrian Agama RI. Salah satu materi penting dalam pertemuan ini diusampaikan oleh Bapak H.Idy Muzayyad, S.H.I, M.Si. selaku Pimpinan Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan BAZNAS RI. Beliau mengingatkan pentingnya memperkuat cara mengurus zakat di dalam negeri agar kita bisa ikut membantu urusan kemanusiaan di berbagai belahan dunia. Dalam forum tersebut dibahas mengenai mengapa gerakan zakat oleh amil saat ini masih belum maksimal. Ternyata, mengelola zakat itu bukan hanya sekadar memberi uang atau bantuan, tapi bagaimana mengelolanya dengan amanah, profesional dan memberikan dampak yang nyata. Setidaknya, ada delapan kendala utama di lapangan yang harus kita benahi bersama secara bertahap. Tantangan pertama adalah pemahaman zakat di masyarakat yang masih minim, terutama soal aturan, manfaat, dan skala prioritas penerima zakat secara benar. Hal ini berpengaruh ke tantangan kedua, yaitu kepercayaan masyarakat kepada lembaga amil yang belum merata, sehingga lembaga perlu terus terbuka, jujur, dan rajin memberikan laporan kepada publik. Pada bagian data, tantangan ketiga muncul karena potensi zakat belum tercatat rapi, sebab data pemberi zakat dan penerima manfaat belum saling terhubung dengan pas. Kondisi ini ditambah lagi dengan tantangan keempat, yaitu urusan digitalisasi pengumpulan dan pelayanan zakat yang belum tersebar merata di seluruh daerah. Tantangan kelima adalah kerja sama antara pihak pemerintah, ulama, dan lembaga zakat yang belum berjalan kompak dalam membuat aturan yang mendukung. Sementara tantangan keenam ada di internal lembaga sendiri, yaitu jumlah dan keahlian amil profesional yang masih terbatas dari sisi kemampuan, kejujuran, maupun jaminan kesejahteraanya. Dua tantangan terakhir menegaskan masih kurangnya sosialisasi ke masyarakat tentang hasil nyata dari program zakat produktif, serta belum eratnya kerja sama antar-lembaga amil zakat untuk bergerak kompak dalam satu sistem yang sama. Melihat berbagai kendala di atas, forum ini merumuskan lima langkah solusi yang bisa langsung kita praktikkan sehari-hari. Sebagai langkah konkret, solusi kolaborasi tadi diturunkan ke dalam delapan bentuk kegiatan yang dilakukan antar-lembaga amil zakat: Foto: Dokumentasi BAZNAS Fundraising Forum Ketika semua bagian kerja harian dan kolaborasi ini bisa berjalan seirama maka zakat yang dikelola secara profesional akan semakin besar manfaatnya bagi kesejahteraan masyarakat banyak. Tugas mengumpulkan dan menyalurkan zakat, infak, serta sedekah ini jelas bukan perkara yang mudah, melainkan sebuah tanggung jawab mulia yang punya dasar kuat dalam agama. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Munafiqun ayat 10: “Dan Infakkanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata dengan menyesal, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.’” Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya peran para penggerak kebaikan atau amil dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Muslim: “Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan, sama pahalanya seperti orang yang melakukannya.” Melalui helatan BAZNAS Fundraising Forum ini, mari kita rapatkan barisan, satukan potensi, dan kuatkan kerja sama demi kebaikan masyarakat yang lebih luas. Sebagai bentuk tanggung jawab dalam merapikan operasional lembaga dan memperluas manfaat bagi sesama, LAZ Zakatel siap menjadi jembatan amanah Anda. Salurkan amanah zakat, infak, dan sedekah terbaik Sahabat Zakatel melalui rekening resmi a.n Zakatel Citra Caraka: BNI: 2.229.222.920 BSI (Infak sedekah): 77.333.333.77 BSI (Zakat): 70.262.223.32 Mandiri: 131.00.1022992.2 Jangan lupa melakukan konfirmasi melalui official Call Center kami di 0812 2374 1539 (WhatsApp). Mari bersama-sama kita ubah titipan zakat menjadi berkah yang mengalir tanpa putus. Baarakallahu fiikum.

Menyelaraskan Ikhtiar Amil Zakat Demi Kemaslahatan Umat

Ekosistem zakat dan infak hari ini menuntut kecakapan kemampuan yang bukan sekadar wacana. Menjawab tantangan zaman, LAZ Zakatel berkesempatan hadir dalam helatan BAZNAS Fundraising Forum pada 15 Juli 2026 di Daarut Tauhid (DT) Geger Kalong, Bandung. Forum ini mempertemukan para penggerak kebaikan dari BAZNAS RI, DT Peduli, Rumah Zakat, BNPB, hingga Kementrian Agama RI. Salah satu esensi penting yang mengemuka dalam forum ini disampaikan oleh Ir. Bascharul Asana, MBA selaku Ketua Yayasan DT Peduli. Beliau menggarisbawahi pentingnya penguatan ekosistem zakat nasional agar mampu berkontribusi nyata dalam gerakan kemanusiaan di kancah global. Mari kita bedah gagasan tersebut. Agar menghadirkan dampak sosial yang masif, pengelolaan zakat membutuhkan satu peta jalan manajemen yang utuh. peta jalan ini berjalan secara berurutan melalui empat fase makro, yaitu Environmental Scanning, Strategy Formulation, Strategy Implementation, serta Evaluation and Control. Pertama, Environmental Scanning atau Pemindaian Lingkungan. Langkah awal kita adalah membaca zaman. Kita harus jeli memetakan peluang, menangkap kegelisahan masyarakat, serta mengidentifikasi dinamika internal maupun eksternal lembaga. Kedua, Strategy Formulation atau Formula Strategi. Setelah memahami medan, kita merancang visi, misi, dan cetak biru kebijakan yang adaptif. Di sinilah arah perjuangan dan khidmah lembaga diputuskan. Ketiga, Strategy Implementation atau Implementasi Strategi. Rencana terbaik adalah rencana yang membumi. Pada tahap ini, seluruh rumusan kebijakan dieksekusi menjadi program-program pemberdayaan nyata yang menyentuh akar rumput. Keempat, Evaluation and Control atau Evaluasi dan Kontrol. Ikhtiar harus selalu diukur. kita melakukan pengawasan berkala dan perbaikan demi memastikan akuntabilitas serta transparansi publik tetap terjaga. Berangkat dari empat siklus di atas, lahirlah model hubungan antarvariabel yang saling menguatkan demi mendongkrak performa lembaga dari hulu ke hilir, yaitu External Forces (Kekuatan Eksternal). Lembaga zakat tidak hidup di ruang hampa. Ada faktor luar yang konstan bergerak dan wajib kita antisipasi bersama, yaitu Regulatory Environment (kebijakan dan payung hukum formal dari pemerintah yang mengatur tata kelola zakat), Technological Trend (laju inovasi teknologi digital yang mengubah lanskap interaksi manusia), Inter-Agency Forces (dinamika relasi serta sinergi kelembagaan antarinstansi) dan Dynamic Organization Capability (Kapabilitas Organisasi Dinamis). Menghadapi dunia yang dinamis, bagian internal lembaga harus memiliki motor penggerak yang kuat. Ini mencakup : Ketika kekuatan internal berpadu dengan pemahaman eksternal, maka lahirlah strategi kerja sama yang kokoh. Strategi ini ditopang oleh Mutual Trust (rasa saling percaya yang tulus antarlembaga filantropi), Collaboration Agility (kecepatan dan keluwesan dalam menangkap peluang kerja sama demi kemaslahatan umat), Digital Interoperability (keterhubungan sistem teknologi agar data dapat mengalir secara aman, cepat, dan terintegrasi) dan Operational Excellence Mgt (Manajemen Keunggulan Operasional). Foto: Dokumentasi BAZNAS Fundraising Forum Sinergi yang lincah pada akhirnya membuahkan standarisasi kerja harian yang prima. Hal ini tercermin dari: Inilah muara akhir yang kita tuju bersama. ketika seluruh mesin organisasi bergerak selaras, maka akan lahir buah manis berupa Stakeholders Confidence (tumbuhnya kepercayaan yang mendalam dari para donatur, mitra, masyarakat, dan pemerintah) serta Social Impact (kehadiran lembaga benar-benar memberikan dampak sosial yang luas, mengentaskan kemiskinan, serta mengangkat harkat kemanusiaan di panggung global). Tugas mengumpulkan dan menyalurkan zakat, infak, serta sedekah bukanlah tugas yang ringan, melainkan sebuah amanah mulia yang memiliki sandaran kokoh dalam syariat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya peran para penggerak kebaikan atau amil dalam sebuah hadist sahih riwayat Imam Muslim: “Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan, sama pahalanya seperti orang yang melakukannya.” Melalui momentum BAZNAS Fundraising Forum ini, mari kita rekatkan barisan, satukan potensi, dan kuatkan kolaborasi demi kemaslahatan umat yang lebih luas. Salurkan Kepedulian Anda Bersama LAZ Zakatel sebagai wujud komitmen membangun Operational Excellence dan memperluas Social Impact. LAZ Zakatel siap menjadi jembatan amanah Anda. Salurkan amanah zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui rekening a.n Zakatel Citra Caraka: BNI: 2.229.222.920 BSI (Infak sedekah): 77.333.333.77 BSI (Zakat): 70.262.223.32 Mandiri: 131.00.1022992.2 Jangan lupa melakukan konfirmasi melalui official Call Center kami di 0812 2374 1539 (WhatsApp). Mari bersama-sama kita angkat energi zakat menjadi berkah yang mengalir tanpa batas. Baarakallahu fiikum.

Pelaksanaan dan Sunnah-Sunnah di Hari Raya Iduladha

Iduladha menjadi momen bagi umat Islam untuk mengenang kisah Nabi Ibrahim a.s. saat menerima ujian terberat dari Allah SWT, yaitu merelakan putra tercintanya, Nabi Ismail a.s. Ujian ini sungguh mendalam, mengingat Nabi Ibrahim a.s. dan Sarah telah menanti kehadiran buah hati selama puluhan tahun hingga usia senja. Bersama keikhlasan Sarah yang meminta sang suami menikahi Hajar, Allah SWT akhirnya menjawab kerinduan mereka. Lahirlah Nabi Ismail a.s., sang pelipur lara yang begitu dinantikan di tengah keluarga. Namun, saat Nabi Ismail a.s. baru beranjak remaja, Allah SWT menguji cinta mereka melalui perintah untuk menyembelih sang putra. Di sinilah keindahan akhlak ayah dan anak terpancar. Tanpa keraguan, Nabi Ibrahim a.s. menyampaikan wahyu tersebut dan Nabi Ismail a.s. dengan meneguhkan hati meminta sang ayah menaati perintah-Nya. Berkat ketulusan ini, Allah SWT menyelamatkan Nabi Ismail a.s. di detik-detik terakhir dan menggantikannya dengan seekor domba. Peristiwa ini pun menjadi dasar disyariatkannya ibadah penyembelihan hewan kurban (seperti unta, sapi, kambing, atau domba) setiap tahun. Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. dapat Sobat Zakatel baca dalam Al-Qur’an Surat As-Saffat (37) ayat 99 sampai 111. Hukum dan Waktu Pelaksanaan Salat Iduladha Menukil lampung.baznas.go.id (27/4), hukum Salat Idul Adha adalah sunnah muakkadah, artinya sangat dianjurkan untuk dilaksanakan baik bagi laki-laki maupun perempuan, bahkan bagi mereka yang sedang dalam perjalanan sekalipun. Waktu pelaksanaan Salat Idul Adha dimulai sejak matahari terbit setinggi tombak (sekitar 15–20 menit setelah terbit) hingga sebelum masuk waktu Dzuhur. Namun, disunnahkan untuk melaksanakannya lebih awal dibandingkan salat Idulfitri agar memberi kesempatan lebih luas untuk prosesi ibadah kurban setelahnya. Niat Salat Iduladha Bacaan niatnya salat Idualdha Artinya: Saya niat salat sunnah Iduladha dua rakaat sebagai makmum/imam karena Allah Ta’ala. Tata Cara Salat Idul Adha Salat Idul Adha terdiri dari dua rakaat dengan tambahan takbir. Berikut langkah-langkahnya: Rakaat Pertama: Rakaat Kedua: Setelah selesai salat Iduladha, disunnahkan menyimak khutbah yang disampaikan oleh khatib karena mengandung banyak nasihat dan pelajaran. Khutbah biasanya terdiri dari dua bagian yang dipisahkan dengan duduk sejenak. Sunnah-Sunnah dalam salat Iduladha Agar pelaksanaan salat Iduladha semakin sempurna terdapat beberapa sunnah yang dianjurkan, antara lain: Sunnah-sunnah ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keindahan, kebersihan, dan semangat kebersamaan dalam beribadah. Semoga kita dapat mengikuti pelaksanaannya dengan baik serta dapat meneladani ketaatan dan keikhlasan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. Sobat Zakatel, mari meraih pahala jariyah dengan menebar manfaat bagi sesama. LAZ Zakatel menerima dan menyalurkan titipan kurban Anda melalui rekening berikut: 💳 BNI: 2.229.222.920 💳 BSI: 77.333.333.77 a.n Zakatel Citra Caraka 📲 Tidak lupa konfirmasi official call center kami: 0812 2374 1539 “Tapi gimana kalau budgetnya belum cukup buat kurban?” Tenang, Sobat tetap bisa mendapat pahala dengan berbuat baik melalui infak kurban mulai Rp50.000. Nantinya infak disalurkan untuk: Mari berkurban melalui Zakatel. Informasi lebih lanjut kontak Call Center kami 0812 2374 1539. Barakallahu fiikum.