Menghormati Martabat Mustahik Serta Muzakki dalam Berdema

Sektor filantropi di Indonesia memiliki peran besar dalam merajut jalinan kepedulian antarsesama. Semangat kebersamaan ini menjadi benang merah utama saat LAZ Zakatel menghadiri forum diskusi BAZNAS Fundraising Forum pada Rabu, 15 Juli 2026 di Daarut Tauhid (DT), Geger Kalong, Bandung. Pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan BAZNAS RI, DT Peduli, Rumah Zakat, BNPB, dan Kementrian Agama RI ini menghadirkan catatan penting dari Bapak M. Arifin Purwakananta selaku Deputi I Bidang Pengumpulan BAZNAS RI. Beliau menekankan sebuah paradigma baru mengenai pentingnya menjalankan fundraising kemanusiaan inklusif sebagai gerakan moral bersama. Kemanusiaan adalah jalan utama dalam Islam sekaligus nilai universal yang melampaui batas identitas. Nilai luhur ini bersandar pada teladan mulia Nabi Muhammad SAW yang selalu menghargai martabat sesama manusia tanpa memandang perbedaan latar belakang. Melalui sudut pandang ini, fundraising atau penggalangan dana harus diartikan sebagai gerakan yang menghargai martabat semua pihak, mengajak partisipasi siapa saja, serta mendorong pemulihan menyeluruh bagi yang ditolong, para penolong, dan lingkungan masyarakat sekitar. Persoalan kemanusiaan di lapangan terlalu besar jika hanya dipikul sendiri sehingga diperlukan kerja sama erat yang merangkul pemerintah, swasta, komunitas, akademisi, hingga masyarakat global. Lembaga kebaikan wajib mewaspadai dua kutub ekstrem yang sering kali merusak esensi gerakan filantropi ini: Sebagai jalan tengah, komunikasi inklusif harus dikedepankan dengan menyebarkan ajaran kebaikan universal, membangun optimisme, serta menggugah kesadaran masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi nyata. Komunikasi inklusif itu sendiri bermakna sebagai cara penyampaian pesan ajakan berderma yang menghormati martabat manusia, jujur, serta adil tanpa membeda-bedakan latar belakang suku maupun golongan. Contohnya ketika menyusun konten program bantuan, tim amil tidak lagi memajang foto mustahik dengan wajah menangis tersedu-sedu atau kondisi yang terkesan dieksploitasi demi memancing rasa iba donatur. sebagai gantinya, menampilkan foto sang penerima manfaat yang sedang tersenyum menerima modal usaha dengan narasi yang fokus pada potensi kemandirian ekonominya di masa depan. Ikhtiar ini membutuhkan cara kerja pengumpulan dana yang bersandarkan pada lima prinsip utama komunikasi inklusif agar membawa perubahan jangka panjang. Pertama, kita harus selalu berpihak pada martabat manusia dengan menceritakan kisah penerima manfaat secara etis, empati, dan atas izin mereka. kedua, keterbukaan informasi harus dijaga lewat transparansi penggunaan dana dan audit yang terbuka untuk umum. Ketiga, pendekatan komunikasi harus fokus menggugah harapan serta potensi pemulihan. Bukan malah menjual kekurangan. Keempat, ruang kolaborasi wajib dibuka seluas-luasnya dengan membagi peran secara sehat. Kelima, program pemulihan harus dirancang secara menyeluruh, tidak hanya fokus pada bantuan fisik untuk korban, tetapi juga memperhatikan kesehatan mental serta apresiasi layak bagi para relawan dan petugas kemanusiaan di lapangan. Hasil akhir dari penggalangan dana pada hakikatnya bukan sekadar urusan mengumpulkan uang melainkan sebuah ikhtiar besar dalam membangun peradaban yang berkeadilan. Langkah praktis dalam mengukur dampak kebaikan ini harus dikerjakan secara profesional mulai dari rencana program berbasis data kebutuhan nyata, pelaksanaan yang partisipatif, monitoring rutin, hingga evaluasi dampak yang jelas. Melalui momentum diskusi forum BAZNAS ini LAZ Zakatel berkomitmen untuk terus menyelaraskan setiap program bantuan agar semakin rapi, transparan, dan berdampak nyata untuk kemaslahatan masyarakat banyak. Membuka mata dan hati pada setiap kesulitan di sekitar kita merupakan cerminan dari kematangan spiritual. Setiap kontribusi yang kita berikan; sekecil apapun itu, adalah jembatan kasih sayang yang mengembalikan martabat dan memberikan harapan baru bagi mereka yang sedang berjuang di tengah keterbatasan. LAZ Zakatel siap menjadi wasilah yang menyalurkan kepedulian Anda. Salurkan amanah zakat, infak, dan sedekah terbaik Sahabat melalui rekening resmi a.n Zakatel Citra Caraka: BNI: 2.229.222.920 BSI (Infak sedekah): 77.333.333.77 BSI (Zakat): 70.262.223.32 Mandiri: 131.00.1022992.2 Tidak lupa konfirmasi call center kami 0812 2374 1539 (WhatsApp) Setiap kepedulian yang kita bagikan menjadi langkah untuk saling memulihkan dan menguatkan solidaritas antarmanusia
Tren Gemar Berbagi Lahirkan Generasi Suka Menolong

Sektor filantropi Islam di tanah air belakangan ini sedang mengalami pergeseran sudut pandang yang sangat mendasar. Pandangan ini mengemuka saat LAZ Zakatel menghadiri forum diskusi BAZNAS Fundraising Forum pada Rabu, 15 Juli 2026 di Daarut Tauhid (DT), Geger Kalong, Bandung. Pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan BAZNAS RI, DT Peduli, Rumah Zakat, BNPB, dan Kementerian Agama RI ini menghadirkan pemaparan mendalam dari Bapak Jajang Nurjaman, S.E selaku Direktur Utama DT Peduli. Beliau menyampaikan sebuah pesan penting mengenai esensi sejati dalam mengelola dana umat melalui materi bertajuk Roots Before Fruits. Prinsip ini mengingatkan kita semua mengapa masa depan zakat tidak ditentukan oleh fundraising, tetapi oleh kemampuan menumbuhkan akar kedermawanan. Landasan utama dari pemikiran ini bersandar pada Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 24-25, yang artinya: “Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik; akarnya kuat menghunjam dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu bagi manusia agar mereka selalu mengambil pelajaran.” Melalui ayat ini kita diajak melihat pentingnya memiliki akar yang kuat agar bisa bertumbuh tinggi dan berbuah setiap waktu. Beliau menekankan pentingnya mengubah kebiasaan lama dalam dunia penghimpunan dana umat. Selama ini, banyak pihak terjebak pada paradigma Lama: Mengecat buah, dimana fokus lembaga hanya tertuju pada akibat, yaitu memoles strategi pengumpulan dana agar angka zakat naik. Pola kerja ini diibaratkan seperti sekadar mewarnai bagian luar buah di pohon, tanpa pernah merawat kesehatan akar dan tanahnya. Pengurus zakat semestinya beralih ke Paradigma Baru yaitu Merawat Akar yang fokus pada penyebab utama, yaitu membangun peradaban, trust, kemakmuran, hingga kesadaran zakat naik dengan cara merawat tanah, air, dan ekosistem masyarakatnya. sebab, fundraising hanyalah akibat, bukan penyebab. Jika melihat urutan Piramida Peradaban Zakat, tugas seorang pengelola dana umat tidak boleh berhenti di permukaan saja. Struktur ini bergerak dari: Banyak institusi yang sering kali berhenti di Level 2 saja. Kita harus mendefinisikan ulang keberhasilan dengan menghindari ilusi indikator ekonomi yang transaksisonal seperti total penghimpunan, jumlah donatur, ROI campaign, atau conversion rate. Sebagai gantinya, lembaga harus menggunakan Civilization KPI atau metrik peradaban, seperti menghitung berapa banyak keluarga yang mulai shalat berjamaah, anak muda yang menjadi relawan, pengusaha yang berzakat, masjid yang menjadi pusat pemberdayaan, hingga kampung yang mandiri secara ekonomi. Kalau metrik peradaban ininaik, maka zakat pasti naik. Oleh karena itu, tujuan utama dalam menumbuhkan manusia dermawan adalah tidak sekadar bercita-cita menjadi lembaga fundraising raksasa. Tugas mulia para amil adalah membangun institusi yang melahirkan masyarakat yang senang memberi, sehingga orang baik bertambah, zakat dan sedekah bertambah, relawan bertambah, kolaborasi meluas, dan negara menjadi kuat. Jajang Nurjaman. Foto: Dokumentasi BAZNAS Fundraising Forum Hal ini sejalan dengan hukum konservasi kebaikan, dimana kebaikan tidak pernah hilang melainkan hanya berpindah bentuk. Siklusnya bermula dari rasa percaya, melahirkan orang baik baru, memberi, mengajak orang lain, hingga merasakan dampak. Kita juga harus bijak melihat tantangan antara teknologi vs hati manusia. Masa depan zakat bukan ditentukan oleh AI, digital, TikTok, atau QRIS, melainkan oleh kecepatan masyarakat melahirkan orang baik berikutnya. Teknologi hanya berfungsi mempercepat, sedangkan yang menggerakkan tetaplah hati manusia. Inti dari prinsip Roots Before Fruits adalah bukan sekadar mengelola uang, tetapi mengelola lahirnya manusia dermawan; bukan sekadar mencari donatur, tetapi menciptakan generasi pemberi; serta bukan sekadar membesarkan lembaga, tetapi membesarkan perdaban. Alur berpikir strategis ini diterapkan melalui Framework 4S DT Peduli untuk membangun solusi berdampak. Tahapannya dimulai dari: Sebagai sesama lembaga penggerak kebaikan di Indonesia, contoh nyata dari konsep ini telah dipraktikkan secara terukur lewat program rumah panggung tetap (Rupatap) di Aceh, gerakan Qurban Impact di 30 negara, hingga program pangan Dapur Indonesia di wilayah konflik. Kehadiran program-program tersebut mengingatkan kita bahwa jangan mulai dari program, melainkan mulailah dari masalah besar, temukan celah sistem, hadirkan solusi terbaik, lalu bangun keunggulan yang tidak mudah ditiru demi melahirkan peradaban yang bermartabat. Melalui momentum diskusi bersama BAZNAS Fundraising Forum ini, mari kita bersama-sama memperkuat kerja sama dan merapatkan barisan. Kami memohon doa serta dukungan tulus dari seluruh lapisan masyarakat agar LAZ Zakatel dapat terus bertumbuh, berkembang semakin maju, profesional, dan memberikan manfaat yang jauh lebih luas bagi sesama yang membutuhkan. LAZ Zakatel siap menjadi jembatan amanah Anda. Salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik Sahabat Zakatel melalui rekening resmi a.n Zakatel Citra Caraka: BNI: 2.229.222.920 BSI (Infak sedekah): 77.333.333.77 BSI (Zakat): 70.262.223.32 Mandiri: 131.00.1022992.2 Tidak lupa konfirmasi call center kami 0812 2374 1539 (WhatsApp) Kedermawanan kita hari ini adalah awal dari sebuah kebaikan. Ia siap tumbuh seperti pohon yang meneduhi bumi, mendatangkan ketenteraman jiwa bagi kelangsungan umat dan bangsa.
Upaya Amil Zakat Hadirkan Ketenteraman Batin Bagi Muzakki

Membicarakan potensi dana umat di tanah air memang tidak ada habisnya. Berdasarkan basis data riset terbaru dari BAZNAS dan Kementrian Agama RI, angka pengumpulan ZISWAF serta Dana Sosial Keagamaan Lainnya (DSKL) di Indonesia sebenarnya berpeluang menyentuh angka raksasa hingga Rp1.000 Triliun. Kesadaran masyarakat kita dalam berderma pun sudah terbukti nyata di lapangan. Pada tahun lalu saja, dana sukarela yang dikumpulkan dari umat sudah mencapai Rp243 Triliun. Angka tersebut lahir dari gabungan Infak Sedekah sebesar Rp221 Triliun, Zakat Fitrah Rp8 Triliun, Zakat Maal Rp27 Triliun, serta nilai aset Wakaf sebesar Rp33 Triliun. Seluruh data perilaku dan kecenderungan para pembayar zakat ini pun sudah tercatat rapi di pusat riset nasional. Catatan penting mengenai pengelolaan dana besar ini menjadi bahasan utama saat LAZ Zakatel menghadiri acara BAZNAS Fundraising Forum pada 15 Juli 2026 di Daarut Tauhid (DT) Geger Kalong, Bandung. Beliau menekankan bahwa penguatan strategi pengumpulan dana di dalam negeri menjadi kunci penting agar gerakan kemanusiaan kita bisa ikut berbicara banyak di level dunia. Dalam penyampaiannya, ada satu pemikiran mendasar yang sangat menarik, yaitu ilmu tentang fundraising harus dimatangkan terlebih dahulu sebelum lembaga sibuk memikirkan urusan penyaluran bantuan. Faktanya, banyak sekali yayasan atau lembaga filantropi di sekitar kita yang memiliki daftar mustahik atau penerima manfaat jauh lebih banyak ketimbang ketersediaan dananya. Kondisi timpang ini membuat napas gerakan sebuah lembaga pada akhirnya sangat bergantung pada keahlian para fundraiser di dalamnya. Sayangnya, profesi fundraiser di mata masyarakat luas sering kali dinilai sempit, hanya sebatas orang yang meminta-minta, pengumpul uang, atau kolektor sumbangan harian saja. Pola pikir yang cuma fokus mencari uang ini justru bisa memicu masalah baru bagi masa depan dakwah. Pengurus zakat semestinya fokus membuat ekosistem kerja yang sehat, ramah, dan transparan. Ketika publik merasa nyaman, memperoleh pengalaman bertransaksi sosial yang mudah, serta mendapatkan kepuasan batin, mereka secara sukarela akan berkomitmen untuk rutin berziswaf tanpa perlu terus-menerus dikejar. Aktivitas mengajak dan berkampanye secara santun agar masyarakat mau menitipkan dana ke lembaga memang sudah menjadi tugas harian. BAZNAS RI sendiri sedang gencar mendorong agar para donatur tidak sekedar melepas uangnya, melainkan bisa merasakan pengalaman batin yang membahagiakan serta membawa perubahan baik bagi spiritualitas mereka. Foto: Dokumentasi BAZNAS Fundraising Forum Menunaikan kewajiban zakat harus dirasakan sebagai proses pembersihan jiwa yang menenangkan hati. Jika program bantuan yang digulirkan tidak meninggalkan bekas mendalam di hati masyarakat, gerakan kedermawanan ini tidak akan pernah semarak. Itulah mengapa urusan fundraising harus memakai ilmu, standar praktik yang jelas, dan menjaga etika profesi. Pengumpul dana tidak boleh sekadar menjual air mata kesusahan atau mengandalkan rasa iba orang lain di media sosial. Edukasi kepada publik harus diarahkan bahwa zakat adalah pondasi utama dalam membangun negara, menjaga peradaban, dan meningkatkan kualitas hidup manusia seutuhnya. Inti gerakan kita adalah menumpuk aset kepercayaan masyarakat lewat kolaborasi erat, bukan malah saling berkompetesi antar-lembaga amil. Selama ini, kita terlalu banyak menonjolkan cerita tentang bagaimana mengubah mustahik menjadi muzakki (pemberi zakat). Namun, kita hampir lupa memperhatikan sisi psikologis para muzakki. sangat jarang ada gerakan mengevaluasi apakah para donatur ini merasa bahagia, mendapatkan pencerahan pikiran, atau hidupnya menjadi lebih sakinah setelah rutin berzakat. Sebagai gambaran, lembaga penghimpunan dana di wilayah Amerika, Eropa, dan Asia Pasifik sudah memiliki asosiasi fundraiser resmi dengan anggota lebih dari 30 ribu orang demi menjaga profesionalitas kerja dan mengukur dampak bantuan secara nyata. Berangkat dari kebutuhan mendasar di Indonesia tersebut, forum diskusi ini melahirkan gagasan penting untuk mendirikan Asosiasi Fundraising Indonesia (AFI). Kehadiran AFI dirancang untuk menjadi rumah bersama yang memuliakan profesi fundraiser agar berjalan lebih teratur, jujur, serta terpercaya. Gagasan berdirinya AFI ini didasari oleh visi besar untuk menciptakan organisasi profesi fundraiser yang profesional dan berkelas dunia demi menguatkan budaya kedermawanan di tanah air. Untuk mencapai tujuan itu, misi organisasi dijalankan lewat serangkaian program nyata, mulai dari menyusun standar kompetensi nasional, sertifikasi profesi resmi, pendirian Akademi Fundraising Indonesia, pembuatan jurnal khusus, hingga penyusunan indeks kepercayaan donatur nasional. AFI memegang nilai penting berupa integritas, profesionalisme, kolaborasi, inovasi, akuntabilitas, empati, dan berkelanjutan. Organisasi profesi ini dirancang terbuka secara inklusif bagi seluruh elemen filantropi indonesia. Keanggotaannya mencakup para praktisi fundraising di BAZNAS, lembaga amil zakat (LAZ), yayasan sosial, pesantren, pengelola wakaf, rumah sakit, praktisi CSR perusahaan, hingga kalangan dosen dan mahasiswa. Melalui delapan program strategis yang disiapkan untuk lima tahun pertama, AFI siap mengambil peran sebagai pusat riset publikasi, mediator kolaborasi antarorganisasi, serta mitra strategis pemerintah dalam menyusun kebijakan kedermawanan nasional. Pada akhirnya, nilai kesuksesan dari gerakan kebaikan ini tidak sekadar dihitung dari banyaknya dana yang dikumpulkan, melainkan seberapa besar kepercayaan masyarakat yang bisa dirawat bersama. Melalui inisiatif ini, mari kita dukung satu profesi, satu standar, dan satu gerakan demi mewujudkan masa depan filantropi indonesia yang lebih berkah, tertata, dan merata. Sebagai tanggung jawab kami dalam memperluas manfaat bagi sesama, LAZ Zakatel siap menjadi jembatan amanah Anda. Salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik Sahabat Zakatel melalui rekning resmi a.n Zakatel Citra Caraka: BNI: 2.229.222.920 BSI (Infak sedekah): 77.333.333.77 BSI (Zakat): 70.262.223.32 Mandiri: 131.00.1022992.2 Jangan lupa melakukan konfirmasi ke official Call Center kami di 0812 2374 1539 (WhatsApp). Mari bersama-sama kita ubah titipan zakat menjadi berkah yang mengalir tanpa putus, sekaligus menjadi diri kita pribadi yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Baarakallahu fiikum.
Mengurai Tantangan Penghimpunan ZISWAF di Lapangan

Gerakan zakat di Indonesia sebenarnya punya potensi besar dari kebaikan hati masyarakat kita. Menjawab hal tersebut, LAZ Zakatel berkesempatan hadir dalam acara BAZNAS Fundraising Forum pada 15 Juli 2026 di Daarut Tauhid (DT) Geger Kalong, Bandung. Acara ini mempertemukan para penggerak kebaikan dari BAZNAS RI, DT Peduli, Rumah Zakat, BNPB, hingga Kementrian Agama RI. Salah satu materi penting dalam pertemuan ini diusampaikan oleh Bapak H.Idy Muzayyad, S.H.I, M.Si. selaku Pimpinan Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan BAZNAS RI. Beliau mengingatkan pentingnya memperkuat cara mengurus zakat di dalam negeri agar kita bisa ikut membantu urusan kemanusiaan di berbagai belahan dunia. Dalam forum tersebut dibahas mengenai mengapa gerakan zakat oleh amil saat ini masih belum maksimal. Ternyata, mengelola zakat itu bukan hanya sekadar memberi uang atau bantuan, tapi bagaimana mengelolanya dengan amanah, profesional dan memberikan dampak yang nyata. Setidaknya, ada delapan kendala utama di lapangan yang harus kita benahi bersama secara bertahap. Tantangan pertama adalah pemahaman zakat di masyarakat yang masih minim, terutama soal aturan, manfaat, dan skala prioritas penerima zakat secara benar. Hal ini berpengaruh ke tantangan kedua, yaitu kepercayaan masyarakat kepada lembaga amil yang belum merata, sehingga lembaga perlu terus terbuka, jujur, dan rajin memberikan laporan kepada publik. Pada bagian data, tantangan ketiga muncul karena potensi zakat belum tercatat rapi, sebab data pemberi zakat dan penerima manfaat belum saling terhubung dengan pas. Kondisi ini ditambah lagi dengan tantangan keempat, yaitu urusan digitalisasi pengumpulan dan pelayanan zakat yang belum tersebar merata di seluruh daerah. Tantangan kelima adalah kerja sama antara pihak pemerintah, ulama, dan lembaga zakat yang belum berjalan kompak dalam membuat aturan yang mendukung. Sementara tantangan keenam ada di internal lembaga sendiri, yaitu jumlah dan keahlian amil profesional yang masih terbatas dari sisi kemampuan, kejujuran, maupun jaminan kesejahteraanya. Dua tantangan terakhir menegaskan masih kurangnya sosialisasi ke masyarakat tentang hasil nyata dari program zakat produktif, serta belum eratnya kerja sama antar-lembaga amil zakat untuk bergerak kompak dalam satu sistem yang sama. Melihat berbagai kendala di atas, forum ini merumuskan lima langkah solusi yang bisa langsung kita praktikkan sehari-hari. Sebagai langkah konkret, solusi kolaborasi tadi diturunkan ke dalam delapan bentuk kegiatan yang dilakukan antar-lembaga amil zakat: Foto: Dokumentasi BAZNAS Fundraising Forum Ketika semua bagian kerja harian dan kolaborasi ini bisa berjalan seirama maka zakat yang dikelola secara profesional akan semakin besar manfaatnya bagi kesejahteraan masyarakat banyak. Tugas mengumpulkan dan menyalurkan zakat, infak, serta sedekah ini jelas bukan perkara yang mudah, melainkan sebuah tanggung jawab mulia yang punya dasar kuat dalam agama. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Munafiqun ayat 10: “Dan Infakkanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata dengan menyesal, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.’” Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya peran para penggerak kebaikan atau amil dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Muslim: “Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan, sama pahalanya seperti orang yang melakukannya.” Melalui helatan BAZNAS Fundraising Forum ini, mari kita rapatkan barisan, satukan potensi, dan kuatkan kerja sama demi kebaikan masyarakat yang lebih luas. Sebagai bentuk tanggung jawab dalam merapikan operasional lembaga dan memperluas manfaat bagi sesama, LAZ Zakatel siap menjadi jembatan amanah Anda. Salurkan amanah zakat, infak, dan sedekah terbaik Sahabat Zakatel melalui rekening resmi a.n Zakatel Citra Caraka: BNI: 2.229.222.920 BSI (Infak sedekah): 77.333.333.77 BSI (Zakat): 70.262.223.32 Mandiri: 131.00.1022992.2 Jangan lupa melakukan konfirmasi melalui official Call Center kami di 0812 2374 1539 (WhatsApp). Mari bersama-sama kita ubah titipan zakat menjadi berkah yang mengalir tanpa putus. Baarakallahu fiikum.
Menyelaraskan Ikhtiar Amil Zakat Demi Kemaslahatan Umat

Ekosistem zakat dan infak hari ini menuntut kecakapan kemampuan yang bukan sekadar wacana. Menjawab tantangan zaman, LAZ Zakatel berkesempatan hadir dalam helatan BAZNAS Fundraising Forum pada 15 Juli 2026 di Daarut Tauhid (DT) Geger Kalong, Bandung. Forum ini mempertemukan para penggerak kebaikan dari BAZNAS RI, DT Peduli, Rumah Zakat, BNPB, hingga Kementrian Agama RI. Salah satu esensi penting yang mengemuka dalam forum ini disampaikan oleh Ir. Bascharul Asana, MBA selaku Ketua Yayasan DT Peduli. Beliau menggarisbawahi pentingnya penguatan ekosistem zakat nasional agar mampu berkontribusi nyata dalam gerakan kemanusiaan di kancah global. Mari kita bedah gagasan tersebut. Agar menghadirkan dampak sosial yang masif, pengelolaan zakat membutuhkan satu peta jalan manajemen yang utuh. peta jalan ini berjalan secara berurutan melalui empat fase makro, yaitu Environmental Scanning, Strategy Formulation, Strategy Implementation, serta Evaluation and Control. Pertama, Environmental Scanning atau Pemindaian Lingkungan. Langkah awal kita adalah membaca zaman. Kita harus jeli memetakan peluang, menangkap kegelisahan masyarakat, serta mengidentifikasi dinamika internal maupun eksternal lembaga. Kedua, Strategy Formulation atau Formula Strategi. Setelah memahami medan, kita merancang visi, misi, dan cetak biru kebijakan yang adaptif. Di sinilah arah perjuangan dan khidmah lembaga diputuskan. Ketiga, Strategy Implementation atau Implementasi Strategi. Rencana terbaik adalah rencana yang membumi. Pada tahap ini, seluruh rumusan kebijakan dieksekusi menjadi program-program pemberdayaan nyata yang menyentuh akar rumput. Keempat, Evaluation and Control atau Evaluasi dan Kontrol. Ikhtiar harus selalu diukur. kita melakukan pengawasan berkala dan perbaikan demi memastikan akuntabilitas serta transparansi publik tetap terjaga. Berangkat dari empat siklus di atas, lahirlah model hubungan antarvariabel yang saling menguatkan demi mendongkrak performa lembaga dari hulu ke hilir, yaitu External Forces (Kekuatan Eksternal). Lembaga zakat tidak hidup di ruang hampa. Ada faktor luar yang konstan bergerak dan wajib kita antisipasi bersama, yaitu Regulatory Environment (kebijakan dan payung hukum formal dari pemerintah yang mengatur tata kelola zakat), Technological Trend (laju inovasi teknologi digital yang mengubah lanskap interaksi manusia), Inter-Agency Forces (dinamika relasi serta sinergi kelembagaan antarinstansi) dan Dynamic Organization Capability (Kapabilitas Organisasi Dinamis). Menghadapi dunia yang dinamis, bagian internal lembaga harus memiliki motor penggerak yang kuat. Ini mencakup : Ketika kekuatan internal berpadu dengan pemahaman eksternal, maka lahirlah strategi kerja sama yang kokoh. Strategi ini ditopang oleh Mutual Trust (rasa saling percaya yang tulus antarlembaga filantropi), Collaboration Agility (kecepatan dan keluwesan dalam menangkap peluang kerja sama demi kemaslahatan umat), Digital Interoperability (keterhubungan sistem teknologi agar data dapat mengalir secara aman, cepat, dan terintegrasi) dan Operational Excellence Mgt (Manajemen Keunggulan Operasional). Foto: Dokumentasi BAZNAS Fundraising Forum Sinergi yang lincah pada akhirnya membuahkan standarisasi kerja harian yang prima. Hal ini tercermin dari: Inilah muara akhir yang kita tuju bersama. ketika seluruh mesin organisasi bergerak selaras, maka akan lahir buah manis berupa Stakeholders Confidence (tumbuhnya kepercayaan yang mendalam dari para donatur, mitra, masyarakat, dan pemerintah) serta Social Impact (kehadiran lembaga benar-benar memberikan dampak sosial yang luas, mengentaskan kemiskinan, serta mengangkat harkat kemanusiaan di panggung global). Tugas mengumpulkan dan menyalurkan zakat, infak, serta sedekah bukanlah tugas yang ringan, melainkan sebuah amanah mulia yang memiliki sandaran kokoh dalam syariat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya peran para penggerak kebaikan atau amil dalam sebuah hadist sahih riwayat Imam Muslim: “Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan, sama pahalanya seperti orang yang melakukannya.” Melalui momentum BAZNAS Fundraising Forum ini, mari kita rekatkan barisan, satukan potensi, dan kuatkan kolaborasi demi kemaslahatan umat yang lebih luas. Salurkan Kepedulian Anda Bersama LAZ Zakatel sebagai wujud komitmen membangun Operational Excellence dan memperluas Social Impact. LAZ Zakatel siap menjadi jembatan amanah Anda. Salurkan amanah zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui rekening a.n Zakatel Citra Caraka: BNI: 2.229.222.920 BSI (Infak sedekah): 77.333.333.77 BSI (Zakat): 70.262.223.32 Mandiri: 131.00.1022992.2 Jangan lupa melakukan konfirmasi melalui official Call Center kami di 0812 2374 1539 (WhatsApp). Mari bersama-sama kita angkat energi zakat menjadi berkah yang mengalir tanpa batas. Baarakallahu fiikum.
Zakatel Salurkan Modal Usaha Konveksi Baju untuk Pensiunan di Bandung Tengah

Ikhtiar Zakatel dalam mendorong kemandirian ekonomi Para Penerima Manfaat Pensiun (PMP) terus berjalan. Pada tanggal 7 Juni 2026, bertempat di Kantor P2Tel Bandung Tengah, telah dilaksanakan penyaluran dana bergulir melalui Program Pemberdayaan Ekonomi Produktif atau PPEP. Bantuan modal tersebut diserahkan oleh KPC P2Tel Bandung Tengah, Bapak Subagdja Subiadinata, kepada salah satu PMP yaitu Bapak Idid Samsudin (NIK 490714), beralamat di Jl. Ciateul GG Nurkiman No.29 Bandung. Dana bergulir sebesar Rp 2,5 juta tersebut akan dialokasikan untuk modal pengembangan usaha pembuatan baju coat. sebagai informasi, PPEP merupakan program unggulan Zakatel yang berfokus pada pemberian modal usaha tanpa bunga (khurdul hasan). sistem dana bergulir ini ditujukan untuk mengubah mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pemberi zakat) di masa depan. Melalui modal usaha ini, para PMP dibantu untuk merintis atau memperbesar usaha mereka agar bisa mandiri secara finansial. Diharapkan lini usaha konveksi yang ditekuni Bapak Idid dapat berkembang lebih maju, meningkatkan pendapatan keluarga, serta membawa keberkahan. pihak pengelola turut mendoakan agar seluruh proses pengembalian dana bergulir ini berjalan lancar dan tepat waktu. Yuk, Jadi Bagian dari Kebaikan Ini! Halo, Sahabat Dermawan Zakatel! Stiap rupiah yang Anda sisihkan melalui Zakat, Infak, Sedekah, hingga wakaf (ZISWAF) di Zakatel terbukti mampu mengubah hidup seseorang. Dengan membantu modal usaha para dhuafa, kita tidak hanya memberi mereka makan untuk hari ini, tetapi juga memberikan fondasi agar mereka bisa tegak mandiri, meningkatkan taraf hidup, dan ikut memajukan ekonomi bangsa. Insyaallah harta yang sahabat titipkan akan mengalirkan pahala jariyah yang tidak akan terputus. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara : Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang saleh”. (HR. Muslim No. 1631) Salurkan amanah Anda melalui rekening a.n Zakatel Citra Caraka: BNI : 2.229.222.920 BSI (Infak sedekah) : 77.333.333.77 BSI (Zakat) : 70.262.223.32 Mandiri : 131.00.1022992.2 Tidak lupa konfirmasi call center kami 0812 2374 1539 (WhatsApp) Sedekah produktif yang Sahabat berikan hari ini menjadi modal usaha yang terus berputar, melahirkan senyuman di wajah para dhuafa, dan menjadi investasi terbaik kita di akhirat kelak. Aamiin.
Kepedulian menjadi Harapan bagi Mereka yang Membutuhkan (Mohamad Fazri Arif Kusumah)

Bandung, 25 Juni 2026 – LAZ Zakatel Citra Caraka menyalurkan bantuan kepada Mohamad Fazri Arif Kusumah (19), korban kecelakaan asal Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, pada Kamis (25/6). Bantuan diserahkan langsung di kediaman penerima di Jalan Pamoyanan No. 11/66 RT/RW 008/004, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cicendo. Bantuan yang diberikan berupa satu unit kursi roda Hotlir tipe selonjor 2-in-1 senilai Rp.2.160.000 serta uang tunai sebesar Rp.550.000 untuk membantu kebutuhan penunjang medis. Bantuan tersebut diterima langsung oleh Neti Herawati (52), ibu dari Mohamad Fazri Arif Kusumah, selaku wali penerima manfaat. Penyaluran bantuan dilakukan sebagai bentuk kepedulian LAZ Zakatel Citra Caraka terhadap korban kecelakaan yang masih menjalani proses pemulihan dan membutuhkan dukungan dalam memenuhi kebutuhan mobilitas maupun biaya perawatan medis. Neti Herawati menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada LAZ Zakatel Citra Caraka beserta para donatur yang telah memberikan perhatian kepada putranya. Menurutnya, bantuan berupa kursi roda dan uang tunai untuk kebutuhan medis sangat berarti bagi keluarga dalam mendukung proses pemulihan Fazri. “Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada LAZ Zakatel Citra Caraka dan seluruh donatur yang telah membantu anak kami. Bantuan ini sangat bermanfaat untuk menunjang mobilitas dan kebutuhan pengobatan Fazri. Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan para donatur dengan pahala yang berlipat,” ujar Neti. Melalui program bantuan kemanusiaan ini, LAZ Zakatel Citra Caraka terus berkomitmen menyalurkan amanah para donatur kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya mereka yang sedang menghadapi kondisi kesehatan dan keterbatasan ekonomi.
Pelaksanaan dan Sunnah-Sunnah di Hari Raya Iduladha

Iduladha menjadi momen bagi umat Islam untuk mengenang kisah Nabi Ibrahim a.s. saat menerima ujian terberat dari Allah SWT, yaitu merelakan putra tercintanya, Nabi Ismail a.s. Ujian ini sungguh mendalam, mengingat Nabi Ibrahim a.s. dan Sarah telah menanti kehadiran buah hati selama puluhan tahun hingga usia senja. Bersama keikhlasan Sarah yang meminta sang suami menikahi Hajar, Allah SWT akhirnya menjawab kerinduan mereka. Lahirlah Nabi Ismail a.s., sang pelipur lara yang begitu dinantikan di tengah keluarga. Namun, saat Nabi Ismail a.s. baru beranjak remaja, Allah SWT menguji cinta mereka melalui perintah untuk menyembelih sang putra. Di sinilah keindahan akhlak ayah dan anak terpancar. Tanpa keraguan, Nabi Ibrahim a.s. menyampaikan wahyu tersebut dan Nabi Ismail a.s. dengan meneguhkan hati meminta sang ayah menaati perintah-Nya. Berkat ketulusan ini, Allah SWT menyelamatkan Nabi Ismail a.s. di detik-detik terakhir dan menggantikannya dengan seekor domba. Peristiwa ini pun menjadi dasar disyariatkannya ibadah penyembelihan hewan kurban (seperti unta, sapi, kambing, atau domba) setiap tahun. Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. dapat Sobat Zakatel baca dalam Al-Qur’an Surat As-Saffat (37) ayat 99 sampai 111. Hukum dan Waktu Pelaksanaan Salat Iduladha Menukil lampung.baznas.go.id (27/4), hukum Salat Idul Adha adalah sunnah muakkadah, artinya sangat dianjurkan untuk dilaksanakan baik bagi laki-laki maupun perempuan, bahkan bagi mereka yang sedang dalam perjalanan sekalipun. Waktu pelaksanaan Salat Idul Adha dimulai sejak matahari terbit setinggi tombak (sekitar 15–20 menit setelah terbit) hingga sebelum masuk waktu Dzuhur. Namun, disunnahkan untuk melaksanakannya lebih awal dibandingkan salat Idulfitri agar memberi kesempatan lebih luas untuk prosesi ibadah kurban setelahnya. Niat Salat Iduladha Bacaan niatnya salat Idualdha Artinya: Saya niat salat sunnah Iduladha dua rakaat sebagai makmum/imam karena Allah Ta’ala. Tata Cara Salat Idul Adha Salat Idul Adha terdiri dari dua rakaat dengan tambahan takbir. Berikut langkah-langkahnya: Rakaat Pertama: Rakaat Kedua: Setelah selesai salat Iduladha, disunnahkan menyimak khutbah yang disampaikan oleh khatib karena mengandung banyak nasihat dan pelajaran. Khutbah biasanya terdiri dari dua bagian yang dipisahkan dengan duduk sejenak. Sunnah-Sunnah dalam salat Iduladha Agar pelaksanaan salat Iduladha semakin sempurna terdapat beberapa sunnah yang dianjurkan, antara lain: Sunnah-sunnah ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keindahan, kebersihan, dan semangat kebersamaan dalam beribadah. Semoga kita dapat mengikuti pelaksanaannya dengan baik serta dapat meneladani ketaatan dan keikhlasan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. Sobat Zakatel, mari meraih pahala jariyah dengan menebar manfaat bagi sesama. LAZ Zakatel menerima dan menyalurkan titipan kurban Anda melalui rekening berikut: 💳 BNI: 2.229.222.920 💳 BSI: 77.333.333.77 a.n Zakatel Citra Caraka 📲 Tidak lupa konfirmasi official call center kami: 0812 2374 1539 “Tapi gimana kalau budgetnya belum cukup buat kurban?” Tenang, Sobat tetap bisa mendapat pahala dengan berbuat baik melalui infak kurban mulai Rp50.000. Nantinya infak disalurkan untuk: Mari berkurban melalui Zakatel. Informasi lebih lanjut kontak Call Center kami 0812 2374 1539. Barakallahu fiikum.
Rambu-Rambu dalam Dunia Usaha

Sebuah workshop yang mengupas fikih muamalah mengingatkan bahwa aktivitas ekonomi bukan perkara netral. Jual beli, promosi, hingga cara melayani konsumen memiliki bobot moral yang menentukan arah akhir sebuah usaha. Bisnis dapat menjadi sarana meraih keberkahan atau justru sebaliknya, menjauhkan pelakunya dari nilai-nilai yang diridhai Allah. Melalui Workshop Fiqh Muamalah dan Transaksi Marketplace yang digelar pada Sabtu, 7 Februari 2026, Ustadz Saiful Rahmat Hafidzahullah membagikan insight penting seputar etika bisnis syariah. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi pelaku usaha agar tidak sekadar mengejar keuntungan, tetapi juga menjaga nilai ibadah pada setiap transaksi. Ustadz Saiful Rahmat menjelaskan bahwa bekerja dan berbisnis dapat mengantarkan seseorang ke surga atau ke neraka. Penentunya bukan besar kecilnya omzet, melainkan niat serta cara menjalankan usaha. Orientasi mencari nafkah tidak boleh berhenti pada materi, tetapi harus diarahkan pada ridha Allah. Pesan utama lain yang ditekankan adalah pentingnya ilmu sebelum terjun ke dunia usaha. Pelaku bisnis yang berjalan tanpa pemahaman muamalah berisiko terjerumus ke praktik haram tanpa disadari. Proses belajar, banyak bertanya, serta memiliki pembimbing dinilai sebagai langkah menjaga usaha tetap berada pada jalur yang benar. Beliau menjelaskan bahwa hukum asal muamalah bersifat boleh. Islam tidak melarang umatnya mencari penghasilan selama tidak melanggar ketentuan syariat. Hal ini berbeda dengan ibadah mahdhah seperti shalat dan wudhu yang dikerjakan karena adanya perintah khusus dari Allah SWT. Akad jual beli tidak harus selalu diucapkan secara lisan. Kesepakatan dapat terwujud melalui tulisan, isyarat, atau tindakan nyata, termasuk klik persetujuan dan pembayaran digital. Meski akad telah sah, tanggung jawab penjual tetap melekat hingga barang benar-benar diterima pembeli, kecuali pengiriman dilakukan oleh wakil pembeli. Kejujuran menjadi ruh transaksi. Cacat barang wajib disampaikan secara jelas dan rinci. Menyembunyikan kekurangan produk, menampilkan foto berlebihan, atau membuat deskripsi menyesatkan termasuk bentuk kecurangan. Praktik ulasan palsu juga mendapat perhatian serius, terutama bagi influencer dan affiliator yang memiliki pengaruh terhadap keputusan konsumen. Nama produk pun menjadi bagian dari etika bisnis. Penggunaan istilah yang meremehkan nilai agama atau mengandung unsur keburukan misal “Bakso Setan” atau “Fashion Fir’aun” sebaiknya dihindari agar tidak merendahkan syiar Islam. Sistem pre-order menuntut transparansi waktu penyelesaian dan penyerahan barang. Ketidakjelasan berpotensi menimbulkan gharar. Fasilitas paylater pun dianjurkan untuk dihindari kecuali kondisi darurat karena berpotensi mengandung riba, gharar, serta unsur kezaliman akibat penambahan pembayaran dari nominal awal. Aktivitas promosi melalui live streaming perlu menjaga adab. Perempuan tidak semestinya dijadikan daya tarik visual. Apabila ikhwan atau akhwat hendak melakukan live streaming produk, penggunaan manekin dianjurkan sebagai alternatif menjaga kehormatan serta etika syar’i. Ketika barang yang diterima pembeli tidak sesuai kesepakatan, penjual wajib bertanggung jawab melalui pengembalian barang, penukaran, atau pengembalian dana. Sikap ini diyakini menumbuhkan kepercayaan dan menghadirkan keberkahan usaha. Pemanfaatan teknologi seperti AI untuk foto atau video produk diperbolehkan selama bersifat wajar dan tidak dijadikan sebagai testimoni palsu. Paparan tersebut menegaskan bahwa fikih muamalah berperan sebagai kompas etika bisnis. Usaha yang dijalankan dengan ilmu, kejujuran, dan tanggung jawab bukan hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga menjadi jalan menuju keselamatan akhirat. Ingin usaha semakin berkah dengan berbagi manfaat kepada dhuafa? LAZ Zakatel menghimpun dan menyalurkan zakat, infak, dan sedekah Sahabat Dermawan. Amanah dapat disalurkan melalui rekening berikut: BNI: 2.229.222.920 BSI: 77.333.333.77 a.n Zakatel Citra Caraka Jangan lupa melakukan konfirmasi kepada official call center Zakatel (WhatsApp) 0812 2374 1539. Bismillah Allah mudahkan dan lancarkan usaha kita semua.
PEDULI SUMATERA

Peristiwa siklon tropis yang melanda Sumatra tidak dapat dilepaskan dari hilangnya sekitar 1,4 juta hektare hutan tropis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 15 Desember menyebutkan bahwa kawasan hutan tersebut telah dialihfungsikan menjadi wilayah pertambangan dan perkebunan sawit. Perubahan tutupan lahan ini menyebabkan rusaknya fungsi hidrologis hutan, sehingga kemampuan tanah untuk menyerap air menurun secara drastis. Air hujan yang seharusnya tertahan dan meresap perlahan, kini langsung mengalir ke permukaan dan memicu bencana. Dampak yang dirasakan warga begitu besar dan menyayat nurani. Hingga 18 Desember 2025, tercatat 1.059 jiwa meninggal dunia dan 192 orang masih dinyatakan hilang. Sebanyak 3,3 juta jiwa terdampak, kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, bahkan pola hidup sehari-hari. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp68,8 triliun, dengan 147.236 rumah rusak, 145 akses jembatan hancur, serta 967 fasilitas pendidikan turut terdampak. Angka-angka ini bukan sekadar data, melainkan potret duka ribuan keluarga yang hari-harinya terenggut oleh bencana. Berbagai dokumentasi yang beredar di media sosial memperlihatkan gelondongan kayu yang tersusun terlalu rapi untuk disebut sebagai akibat alam semata. Beberapa di antaranya bahkan memuat nama perusahaan beserta pihak yang memberi izin atas aktivitas penebangan tersebut. Allah Swt. telah mengingatkan dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41, yang artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Melalui hal itu Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.” Kondisi ini seolah menjadi jawaban atas masifnya ekspansi perkebunan sawit yang kini mencapai 2,45 juta hektare. Di sisi lain, BMKG menyatakan telah secara rutin menyampaikan peringatan terkait potensi siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia. Tak heran jika sebagian masyarakat memandang adanya kesan abai dari para pemangku kebijakan. Kesiapsiagaan bencana memang penting, namun jauh lebih mendasar adalah ketegasan kebijakan yang hadir, melindungi, dan membersamai masyarakat. Secara alami, akar pohon hutan mampu menyerap hingga 55 persen air hujan, sehingga air tidak langsung mengalir ke permukaan. Dengan mekanisme ini, hutan menahan, menyerap, dan melepaskan air secara perlahan tanpa merusak ekosistem. Kondisi ini sangat berbeda dengan perkebunan sawit. Kajian M. Raynaldo Sandita Powa dalam jurnal Teknologi Perkebunan dan Pengelolaan Sumberdaya Lahan pada 2 Desember mencatat bahwa kandungan bahan organik tanah di perkebunan sawit hanya sekitar 2,18 persen, sementara hutan mencapai 4,09 persen. Rendahnya bahan organik ini membuat struktur tanah menjadi rapuh, agregatnya tidak stabil, dan kemampuan tanah menyimpan air pun berkurang. Secara ilmiah, pembentukan badai tropis dipengaruhi oleh efek Coriolis, yakni gerak semu akibat rotasi bumi yang membelokkan angin hingga membentuk pusaran badai. Di wilayah khatulistiwa, efek ini relatif lemah sehingga badai seharusnya sulit terbentuk. Namun, peristiwa di Sumatra menunjukkan bahwa bencana tetap dapat terjadi akibat curah hujan ekstrem yang turun di wilayah bertopografi curam, seperti Pegunungan Bukit Barisan. Ketika tanah telah jenuh air, aliran permukaan meningkat dengan cepat dan memperbesar risiko banjir bandang serta longsor, bahkan tanpa terbentuknya badai tropis secara sempurna. BMKG menegaskan bahwa ketidaksungguhan dalam menjaga ekosistem, khususnya hutan yang berperan besar dalam mencegah bencana hidrometeorologi, hanya akan memperpanjang siklus bencana itu sendiri. Saat potensi bencana muncul, masyarakat kerap kebingungan akibat minimnya informasi yang jelas dan terarah. Informasi dan bantuan sering kali baru hadir ketika bencana telah terjadi. Pemerintah diharapkan mampu menjalankan perannya sebagaimana mestinya, yakni mengelola potensi alam Indonesia secara bijak dan bertanggung jawab. Hingga kini, warga korban banjir di Sumatra masih harus menempuh puluhan kilometer hanya untuk mendapatkan bahan makanan. Malam hari dilalui dalam dingin dan gelap karena ketiadaan listrik. Akses internet terputus, jalan terputus, dan harapan untuk kembali membangun mata pencaharian seolah hanyut bersama banjir. Satu pekan berlalu, dua pekan terlewati, namun rasa aman dan kenyamanan belum juga mereka rasakan. Sumatra adalah Indonesia. Mereka tidak meminta lebih. Dapat makan, minum, dan hidup layak sebagai manusia saja sudah cukup. Keteguhan mereka menghadapi keadaan menunjukkan bahwa mereka tidak menyerah. Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk menolong saudara-saudara kita? LAZ Zakatel menghimpun dan menyalurkan donasi bantuan untuk saudara-saudara korban banjir di Sumatra. Mari titipkan infaq terbaik Sahabat. Tambahkan angka 5 di akhir nominal donasi sebagai kode bantuan bencana Sumatra, contoh Rp10.005. Donasi dapat disalurkan melalui rekening berikut:Mandiri: 131.00.1022992.2BNI: 2.229.222.920BSI: 77.333.333.77a.n Zakatel Citra Caraka Jangan lupa melakukan konfirmasi kepada official admin Zakatel di nomor 0812 2374 1539. Sahabat juga dapat berdonasi dengan sekali klik melalui https://zakatel.id/campaign/bantu-sumatera-pulih Melalui peristiwa ini, hendaknya menjadi pekerjaan rumah kita bersama agar tidak ada lagi korban akibat bencana serupa. Pembenahan menyeluruh perlu dilakukan, dan pihak pemberi izin kebijakan sudah sepatutnya menjadi yang pertama memulainya.